Akhir Pekan Rupiah Loyo Lagi, Ditutup Turun 64 Poin

  • 11 Sep 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,36 persen atau 64 poin menjadi Rp17.611 per dolar AS
  • Sentimen pasar negatif menyusul kondisi Timur Tengah yang makin tidak kondusif. Pertempuran antara AS-Iran makin parah dengan aksi saling serang
  • Di dalam negeri, pelaku pasar mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap ketahanan fiskal Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Pelemahan rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,36 persen atau 64 poin menjadi Rp17.611 per dolar AS.

Sentimen pasar negatif menyusul kondisi Timur Tengah yang makin tidak kondusif. Pertempuran antara AS-Iran makin parah dengan aksi saling serang.

“Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz. Sedangkan AS mengklaim telah melakukan serangan balasan ke lima kapal tanker Iran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 11 September.

Pada saat yang sama kelompok Houthi di Yaman disebut telah menguasai kota pelabuhan Mocha. Sehingga semakin memperkuat posisi mereka dalam mengendalikan Selat Bab el-Mandeb dan berpotensi memutus jalur utama pasokan minyak di Timur Tengah.

“Kondisi itu membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” ucap Ibrahim. Sementara itu, Indeks Harga Produsen bulan Agustus di AS naik 0,4 persen secara bulanan

Kenaikan tersebut, kata Ibrahim, sesuai ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan bulan Juli yang naik sebesar 0,1 persen. Secara tahunan, inflasi harga produsen naik menjadi 5,4 persen persen di bulan Agustus dari 4,8 persen di bulan Juli.

Inflasi harga produsen inti juga naik menjadi 4,6 persen di bulan Agustus, dari 4,3 persen di bulan Juli. Kenaikan angkan inflasi harga produsen menambah kuat peluang the Fed menaikkan suku bunga.

Namun pelaku pasar masih menunggu satu data lagi yang akan dirilis, yaitu Indeks Harga Konsumen yanga akan menggambarkan inflasi umum. Data ini akan dirilis malam nanti waktu AS.

IHK bulan Agustus diprakirakan naik dari 0,1 persen menjadi 0,4 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan IHK diprakirakan stabil di level 3,4 persen, IHK inti secara tahunan diprakirakan turun menjadi 2,4 persen di bulan Agustus.

Di dalam negeri, Ibrahim menyebut pelaku pasar mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap ketahanan fiskal Indonesia. Stabilitas ekonomi juga akan terganggu kalau defisit fiskal terlalu lebar.

“Dampak fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Hal itu akan membuat beban APBN meningkat,” ujar Ibrahim.

Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam, yang memicu pelemahan rupiah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....