IHSG Diprakiraan Melemah Hari Ini, Dipengaruhi Harga Minyak dan Suku Bunga
- 11 Sep 2026 08:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan melemah dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini
- Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan prospek kenaikan suku bunga.
- IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan melemah dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan prospek kenaikan suku bunga.
Pada Kamis kemarin, IHSG ditutup turun 1,33 persen ke level 6.589 disertai net sell (jual bersih) saham sebesar Rp747,51 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BBRI, ISAT, DSSA, dan INDY.
“IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 11 September 2026.
Hari ini, harga minyak mentah Brent sudah tembus ke level USD108 per barel. Sedangkan harga minyak mentah WTI berada di level USD102,48 per barel.
Tim Phintraco mencermati data penjualan ritel bulan pada Juli 2026 yang naik sebesar 1,1 persen secara tahunan. Penjualan ritel mulai naik setelah tiga bulan terakhir mengalami penurunan.
Berdasarkan data Bank Indonesia, masyarakat masih memilih untuk membeli barang konsumsi pokok. Terlihat dari kenaikan penjualan eceran sektor makanan, minuman dan tembakau.
Penjualan sektor tersebut naik menjadi 3,6 persen di bulan Juli 2026 dari 2,4 persen di bulan Juni. Sementara itu, penjualan ritel untuk bulan Agustus turun 0,1 persen secara bulanan.
Tim Phintraco juga mencermati defisit APBN bulan Juli 2026 sebesar Rp235,6 triliun atau 0,91 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Berdasarkan defisit hingga Juli ini, pemerintah diperkirakan masih memiliki ruang fiskal yang cukup memadai,” ucap Tim Phintraco.
Defisit bulan Juli masih relatif kecil dibandingkan target defisit APBN 2026 sebesar Rp734.3 triliun atau 2,85 persen dari PDB. Namun, anggaran negara menghadapi tantangan global, terutama dari kenaikan harga minyak dunia.
“Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan Pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN,” ujar Tim Phintraco.
Dari eksternal, bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sehingga suku bunga ECB menjadi 2,65 persen di bulan Agustus 2026.
“ECB menyatakan konflik Timur Tengah terus memicu tekanan inflasi. Perkiraannya, inflasi masih akan di atas target 2 persen untuk jangka waktu cukup lama,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....