Rupiah Melemah Sepanjang Hari Ini, Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia
- 10 Sep 2026 19:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah terpantau ditutup turun 0,21 persen atau 36 poin ke level Rp17.547 per dolar AS
- Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak mentah dan perang di Timur Tengah
- Di dalam negeri pasar mencermati risiko fiskal Indonesia akibat tingginya harga minyak dunia
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik melemah sepanjang hari ini setelah dua hari sebelumnya menguat siginifkan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan perdagangan sore hari.
Rupiah terpantau ditutup turun 0,21 persen atau 36 poin ke level Rp17.547 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp 17.511 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak mentah dan perang di Timur Tengah. Perang yang dipicu serangan AS ke Iran ini meluas menjadi konflik antara Kelompok Houthi di Yaman dengan Arab Saudi.
“Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela pada bulan November. Namun, sebuah laporan di Wall Street Journal mengungkapkan kemungkinan perang berlanjut hingga sisa masa jabatan Trump,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Kamis, 10 September 2026.
Pada saat yang sama, pelaku pasar bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini. Sedangkan data Indeks Harga Konsumen akan dirilis Jumat waktu setempat.
“Data-data tersebut dapat memberikan petunjuk, apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan. Utamanya untuk meredam tekanan harga atau inflasi,”ujar Ibrahim.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga the Fed. Kenaikan suku bunga itu kemungkinan akan disampaikan pada pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati risiko fiskal Indonesia akibat tingginya harga minyak dunia. “Meski pemerintah menyatakan anggaran negara dalam posisi aman, tapi harga minyak membayangi stabilitas perekonomian,” ucap Ibrahim.
Kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG). Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target jadi meningkat.
“Selain itu, impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS sehingga dapat memperlemah nilai tukar rupiah. Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM di dalam negeri untuk mengurangi beban APBN, akan memicu inflasi,” ujar Ibrahim.
Inflasi yang tinggi dapat menekan daya beli masyarakat. Pemerintah, lanjut Ibrahim, umumnya mengandalkan “bantalan fiskal” (fiscal buffer) untuk menjaga agar anggaran tetap aman.
Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas. Tekanan sedikit menurun di bulan Agustus karena sentimen konsumen mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
“Konsumsi didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih baik. Meskipun belum dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....