IHSG Naik 0,11 Persen ke Level 6.525,48 pada Penutupan Perdagangan Akhir Agustus 2026
- 31 Agt 2026 16:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG naik 7,36 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.525,48 pada penutupan perdagangan Senin 31 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan penguatan pada penutupan sesi perdagangan Senin 31 Agustus 2026. IHSG ditutup pada posisi 6.525,48 atau naik 7,36 poin (0,11 persen) setelah dibuka di level 6.511,10.
Pergerakan IHSG didominasi 392 saham naik, 233 saham turun, dan 166 saham stagnan. Sementara aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi sebesar Rp24,45 triliun.
Volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 48,78 miliar lembar. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai lebih dari 2,38 juta kali transaksi.
Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, sebelumnya sudah memperkirakan bakal menguatnya IHSG. Menurut dia, ini karena kemampuan IHSG bertahan di atas level support 6.500 pada perdagangan sebelumnya.
Fanny memperkirakan level support IHSG berada pada rentang 6.460 hingga 6.500. Sementara level resistance diproyeksikan berada di kisaran 6.580 hingga 6.620.
Pergerakan IHSG turut dipengaruhi sentimen bursa saham regional Asia. Mayoritas bursa di kawasan ini menguat seiring penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi.
| Baca juga: IHSG Stagnan di Jeda Siang ke Level 6.517,23 |
Penurunan tersebut didorong optimisme terhadap dimulainya kembali dialog Iran dan Oman. Investor mencermati peluang pembukaan kembali Selat Hormuz yang dapat memengaruhi sentimen pasar global.
Namun, penguatan pasar domestik masih tertahan oleh sentimen negatif dari Wall Street. Bursa saham Amerika Serikat (AS) sebelumnya ditutup melemah sehingga membuat investor domestik tetap berhati-hati.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam forum Jackson Hole. Pernyataan tersebut mengindikasikan bank sentral AS masih berkomitmen menekan inflasi menuju target dua persen.
“Bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan,” katanya. Kondisi tersebut membuat pasar mempertimbangkan kembali prospek kebijakan suku bunga AS yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....