Rupiah Ditutup Menguat di tengah Meruncingnya Konflik AS-Iran
- 20 Agt 2026 19:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,52 persen atau 92 poin menjadi Rp17.748 per dolar AS
- Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah konfli AS-Iran yang makin meruncing
- Dari dalam negeri, pasar merespon positif rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi tahun 2027
RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan rupiah masih berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,52 persen atau 92 poin menjadi Rp17.748 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah konfli AS-Iran yang makin meruncing. Kebijakan ekonomi di AS juga mempengaruhi pergerakan mata uang terhadap dolar AS hari ini.
“Pasar bersiap menghadapi kebuntuan berkepanjangan terkait Selat Hormuz. Presiden Trump menyatakan akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan dan lebih ketat terhadap Iran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 20 Agustus 2026.
Trump juga memperingatkan negara manapun untuk tidak berbisnis dengan Iran. Situasi yang tidak menentu di Selat Hormuz, menyebabkan kapal-kapal menghindari jalur perairan itu.
Di AS, Departemen Keuangan meningkatkan program pembelian kembali sekuritas jangka panjang. Langkah itu dilakukan untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang dari level tertinggi multi-tahun.
“Setelah pengumuman kebijakan itu, imbal hasil US Treasury (obligasi AS) tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin. Sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir 9 basis poin,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, risalah rapat the Fed bulan Juli menunjukkan banyak pembuat kebijakan melihat kemungkinan kenaikan suku bunga. Terutama jika inflasi tidak menurun.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pasar merespon positif rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi tahun 2027. Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite.
“Pengurangan subsidi BBM merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi. Langkah tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan penurunan subsidi BBM tertentu pada 2027,” kata Ibrahim.
Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi. “Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, para investor masih bersikap hati-hati karena masih menunggu rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini. Pada kuartal pertama, transaksi berjalan mengalami defisit yang cukup lebar akibat kinerja perdagangan luar negeri yang melemah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....