Cadangan Emas BI Tertinggal, IMI Dorong Serap Produksi Tambang Dalam Negeri
- 14 Agt 2026 01:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton, menempatkannya di posisi keempat dunia.
- Cadangan emas Bank Indonesia (BI) baru sekitar 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total cadangan emas nasional.
- Penguatan ekosistem emas nasional dinilai dapat memperkuat cadangan devisa, stabilitas moneter, dan ketahanan ekonomi Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dan menempati posisi keempat dunia. Namun, porsi emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) masih relatif kecil, yakni sekitar 87,1 ton.
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, mempertanyakan kondisi tersebut. Menurutnya, besarnya potensi emas nasional seharusnya dapat menjadi peluang untuk memperkuat cadangan emas bank sentral sekaligus mendukung stabilitas ekonomi nasional.
"Jadi pertanyaan kita kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?" kata Irwandy dalam MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Dengan kepemilikan sekitar 87,1 ton, Indonesia berada di posisi ke-44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral. Jumlah tersebut masih jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan Tiongkok 2.346,4 ton.
Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia juga masih berada di bawah Singapura yang memiliki sekitar 194 ton dan Thailand sebesar 234 ton.
Strategi Cadangan Devisa
Irwandy menilai, kecilnya kepemilikan emas BI tidak terlepas dari strategi pengelolaan cadangan devisa yang selama ini lebih berorientasi pada valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat. Menurutnya, aset dalam bentuk dolar memiliki tingkat likuiditas tinggi sehingga dapat digunakan secara langsung ketika BI membutuhkan intervensi di pasar valuta asing.
"Rupanya strategi Bank Indonesia itu, mudah-mudahan saya nggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar," ujarnya.
Ia menyebut cadangan devisa Indonesia saat ini berada di kisaran USD146 miliar atau setara dengan sekitar 5,5 bulan impor. Kondisi tersebut, menurutnya, juga menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang untuk meningkatkan kepemilikan emas.
"Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Kita memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya," kata Irwandy.
Dorong Diversifikasi ke Emas
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Irwandy menilai strategi pengelolaan cadangan devisa perlu kembali dipertimbangkan. Terlebih, sejumlah bank sentral dunia saat ini meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan.
Tiongkok, Rusia, India, Turki, dan Polandia menjadi sejumlah negara yang terus menambah cadangan emas. Langkah tersebut antara lain dipengaruhi risiko geopolitik serta upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
"Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar. Padahal, sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia," ucapnya.
Karena itu, Irwandy mengusulkan agar BI mulai menyerap sebagian produksi emas dari dalam negeri. Skema tersebut dapat dilakukan dengan mengalokasikan sebagian produksi nasional untuk menambah cadangan emas bank sentral.
"Misalnya kalau kita produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton," katanya.
Kapasitas Pemurnian Emas Besar
Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem emas nasional. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang berada dalam Grup MIND ID memiliki fasilitas pemurnian dengan kapasitas mencapai 150 ton per tahun.
Selain itu, Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia memiliki kemampuan memurnikan emas hingga 50 ton per tahun. Dari sektor swasta, fasilitas pemurnian PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) memiliki kapasitas sekitar 18 ton per tahun.
Potensi produksi emas nasional juga didukung sejumlah perusahaan tambang. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) memiliki produksi sekitar 2,4-2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) sekitar 5,9-6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sekitar 2,2 ton per tahun.
Besarnya kapasitas pemurnian dan potensi produksi tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat ekosistem emas nasional.
Penguatan ekosistem emas di dalam negeri dinilai dapat membuka ruang lebih besar bagi peningkatan cadangan emas bank sentral. Langkah tersebut pada akhirnya diharapkan ikut memperkuat cadangan devisa, stabilitas moneter, dan ketahanan ekonomi Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....