Pembiayaan UMKM Tembus Rp1,948 Triliun, OJK: Akses Pembiayaan Masih Jadi Tantangan
- 11 Agt 2026 12:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pembiayaan UMKM mencapai Rp1.948,72 triliun per Juni 2026.
- Perbankan masih mendominasi pembiayaan UMKM dengan porsi mencapai 82,44 persen.
- Akses pembiayaan formal masih terkendala kapasitas usaha, legalitas, dan pencatatan keuangan.
RRI.CO.ID, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan UMKM mencapai Rp1.948,72 triliun per Juni 2026. Pembiayaan tersebut tumbuh 2,16 persen secara tahunan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung seluruh sektor jasa keuangan. Secara tahunan, sektor pasar modal tumbuh 12,25 persen year-on-year (YoY), sektor PVML 7,03 persen YoY, dan sektor perbankan 1,21 persen YoY.
"Pada periode yang sama, porsi pembiayaan UMKM masih didominasi oleh sektor perbankan sebesar 82,44 persen. Diikuti oleh PVML sebesar 17,50 persen, dan pasar modal sebesar 0,06 persen," ujar Dian dalam acara UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Khusus kredit UMKM perbankan, nilainya mencapai Rp1.519,35 triliun pada Juni 2026. Angka tersebut setara 16,73 persen dari total kredit perbankan dengan pertumbuhan 1,65 persen secara tahunan.
Rasio kredit bermasalah atau NPL UMKM perbankan tercatat sebesar 4,54 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas kredit UMKM relatif masih terjaga.
Meski pembiayaan terus berkembang, OJK menilai akses pembiayaan formal masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku UMKM. Keterbatasan kapasitas usaha, legalitas, pencatatan keuangan, dan informasi pasar juga menjadi sejumlah kendala.
Keterhubungan UMKM dengan rantai pasok juga dinilai masih perlu diperkuat. Dian mengatakan persoalan pembiayaan UMKM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana.
Menurutnya, pembiayaan perlu terhubung dengan ekosistem usaha yang lebih utuh dan terintegrasi. Ekosistem tersebut mencakup peningkatan kapasitas, pendampingan, akses pasar, digitalisasi, hingga pembiayaan.
“Dengan ekosistem yang kuat, maka pembiayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan menjadi katalis bagi peningkatan produktivitas. Perluasan usaha, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan daya saing UMKM sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Dian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....