Penguatan Rupiah Berlanjut di tengah Dinamika Konflik Geopolitik

  • 06 Agt 2026 17:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau naik tipis 0,06 persen atau 10 poin ke posisi Rp17.923 per dolar AS
  • Kondisi Timur Tengah yang dinamis masih mempengaruhi pergerakan dolar AS, yang berimbas ke mata uang lainnya
  • Kekhawatiran akan pasokan minyak mereda, dan harga minyak dunia kembali turun ikut mendorong penguatan rupiah

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau naik tipis 0,06 persen atau 10 poin ke posisi Rp17.923 per dolar AS.

Kondisi Timur Tengah yang dinamis masih mempengaruhi pergerakan dolar AS, yang berimbas ke mata uang lainnya. “Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman untuk mengelola bersama Selat Hormuz,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 6 Agustus 2026.

Namun pelaku pasar, menurut Ibrahim, masih bersikap hati-hati, karena kesepakatan antara Iran-Oman bukan berarti Selat Hormuz dibuka kembali. Masih ada persoalan yang belum selesai negosiasinya, seperti biaya kargo, inspeksi dan pengaturan keamanan.

Di sisi lain, Iran kembali membantah pernyataan Presiden Trump soal negosiasi antara AS-Iran. Meski demikian, ada harapan lalu lintas kapal tanker yang melalui Selat Hormuz akan meningkat.

Sehingga kekhawatiran akan pasokan minyak mereda, dan harga minyak dunia kembali turun. “Turunnya harga minyak dunia membuat investor tidak terlalu berekspektasi the Fed akan makin memperketat kebijakan moneternya,” ucap Ibrahim.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga the Fed bulan September mendatang, hanya 55 persen. Persentasenya menurun dari 67 persen selama dua hari kemarin.

Pelaku pasar masih akan fokus pada data pasar tenaga kerja AS. Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan perekrutan tenaga kerja melambat di bulan Juli.

Pasar kini tinggal menunggu data tenaga kerja non-pertanian (NFP)yang akan dirilis hari Jumat besok. Sementara itu di dalam negeri, setelah mencermati data pertumbuhan ekonomi, pelaku pasar kini menunggu hasil penilaian MSCI dan FTSE Rusell.

Dua lembaga penyedia indeks global itu akan memberikan penilaiannya terhadap proses reformasi pasar modal Indonesia. MSCI akan menyampaikan laporannya pada bulan Oktober, sedangkan FTSE akan menyampaikan penilaiannya sekira pertengahan Agustus.

“Arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi. Sehingga masih akan membayangi pergerakan pasar saham di Indonesia,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....