Pasar Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Berpeluang Makin Menguat
- 05 Agt 2026 07:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpeluang menguat dalam perdagangan hari ini
- Para investor menunggun rilis sejumlah data ekonomi hari ini, utamanya data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2026
- Menurut konsensus pasar, pertumbuhan ekonomi triwulan II diperkirakan melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpeluang menguat dalam perdagangan hari ini, Rabu 5 Agustus 2026. Seiring penantian para investor terhadap rilis sejumlah data ekonomi hari ini.
Pada Selasa kemarin, IHSG ditutup menguat signifikan 1,37 persen ke level 6.319,61. Penguatan IHSG disebabkan aksi beli investor asing dengan net buy (beli bersih) sebesar Rp741,19 miliar.
Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah saham-saham finansial. Yakni BBCA, BMRI dan BBRI dan BBNI.
"Secara teknikal IHSG diprakirakan IHSG akan menguji resistansi di level 6.370-6.400," kata Tim Analis Pasar Modal, Phintraco Sekuritas, Rabu, 5 Agustus 2026. Para investor, kata Tim Phintraco, menantikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
"Menurut konsensus pasar, pertumbuhan ekonomi triwulan II diperkirakan melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan. Di triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen," ujar Tim Phintraco.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pertumbuhan ekonomi tetap kuat, meskipun menghadapi tantangan ekonomi global. Penopang pertumbuhan ekonomi tersebut diprediksi berasal dari investasi yang meningkat, serta sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas.
Lebih lanjut, Tim Phintraco menyebutkan, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga didorong oleh adanya program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi.
Konsumsi rumah tangga terjaga karena adanya stimulus selama masa libur sekolah di triwulan II kemarin. Selain adanya upaya penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah berencana memberikan lagi stimulus ekonomi terhadap kendaraan listrik.Yaitu Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 100 persen atas Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik.
Pemerintah juga akan memberikan insentif sebesar 40 persen bagi jenis mobil listrik tertentu. Insentif ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM di domestik sehingga berpotensi mengurangi impor minyak.
"Di sisi lain, insentif akan meningkatkan persaingan di industri otomotif. Terutama terhadap penjualan mobil konvensional di pasar domestik," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....