Pasar Respon Positif Data Ekonomi, Rupiah Ditutup Menguat

  • 03 Agt 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah ditutup naik 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.997 per dolar AS
  • Pelaku pasar merespon positif data ekonomi yang dirilis hari ini. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026
  • Sementara itu dari eksternal, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Trump yang membatalkan serangan besar-besaran ke Iran

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.997 per dolar AS.

Pelaku pasar merespon positif data ekonomi yang dirilis hari ini. "Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 3 Agustus 2026.

Berdasarkan laporan S&P Global Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali naik ke level 50,2 di bulan Juli. Pada bulan Juni PMI manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi pada level 46,9.

"Namun, pemulihan sektor industri masih bertahap karena kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan permintaan ekspor. Pelaku usaha juga hati-hati dalam membeli bahan baku sehingga kondisi itu membatasi laju pertumbuhan industri," ujar Ibrahim.

Sementara itu, BPS melaporkan, secara bulanan perekonomian Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen Juli 2026.Namun secara tahunan masih Indonesia masih mengalami inflasi sebesar 2,88 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat turun dari 111,89 pada Juni, menjadi 111,73 pada Juli 2026. Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar pada deflasi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,89 persen.

Sementara itu dari eksternal, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh perkembangan perang AS-Iran. Presiden Trump menyatakan membatalkan rencana serangan besar-besaran ke Iran.

Trump lagi-lagi mengklaim pihak Iran yang meminta negosiasi, beserta sejumlah negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Negosiasi, itu klaim Trump, bertujuan untuk membuka jalur perdagangan Selat Hormuz dan melucuti nuklir Iran.

Klaim Trump langsung membuat harga minyak turun tajam harga lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan di Asia. Sekaligus meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Saat ini pasar juga fokus terhadap prospek The Fed menaikkan suku bunga, dan data ketenagakerjaan AS. "Para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat the Fed, dalam rapat kebijakan pekan lalu, kembali menegaskan inflasi masih terlalu tinggi," ucap Ibrahim.

Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga dapat segera dilakukan jika diperlukan. Langkah itu demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi.

Perhatian pasar juga tertuju pada rangkaian data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini. Termasuk data lowongan kerja JOLTS, laporan penggajian sektor swasta ADP dan klaim tunjangan pengangguran mingguan.

Selain itu juga akan dirilis laporan tenaga kerja nonfarm payrolls pada Jumat musa. Laporan ini berguna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah kebijakan the Fed berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....