IHSG Terkoreksi di Awal Perdagangan ke Level 6.175,2

  • 28 Jul 2026 09:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka melemah 10,58 poin atau 0,17 persen ke level 6.175,20 pada perdagangan Selasa
  • BNI Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 6.220 sebelum berpotensi kembali terkoreksi
  • Pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga The Fed dan perkembangan penunjukan Gubernur Bank Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.175,2 atau turun 10,58 poin (0,17 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

"Hari ini IHSG berpeluang untuk menguji level resistansi di 6.220. Tapi setelah itu rentan kembali koreksi dengan target 'middle term' di level 6.050-6.150," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam analisisnya, Selasa, 28 Juli 2026.

Fanny mencermati sejumlah faktor yang akan mempengaruhi sentimen para investor di pasar saham. Salah satunya harga minyak mentah yang kembali turun, seiring redanya serangan AS ke Iran.

Negara Paman Sam itu kembali membujuk Iran untuk berdamai, ketika harga minyak mentah melambung. Bujukan AS disertai ancaman jika kesepakatan damai tidak tercapai.

"Turunnya harga minyak membuat saham perusahaan minyak melemah di bursa saham AS. Saham Exxon Mobil misalnya melemah 1,4 persen," ucap Fanny.

Dia juga menyebut putusan kebijakan moneter The Fed menjadi faktor yang akan mempengaruhi sentimen pasar. The Fed akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu, 29 Juli 2026.

Perangkat CME FeedWatch menunjukkan tingkat ekspektasi sebesar 62 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga. Pasar juga menantikan rilis data indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi bulan Juni 2026 pada Kamis lusa.

Sementara di dalam negeri, Tim Analis Phintraco Sekuritas mencermati pengunduran diri Gubernur BI dan dampaknya ke sentimen pasar. "Perhatian investor tertuju pada penunjukkan Gubernur BI yang definitif," ujarnya.

Menurut Tim Phintraco, pasar mengharapkan penunjukkan Gubernur BI baru yang sesuai dengan harapan pasar. Transisi kepimpinan di BI juga diharapkan berjalan lancar.

"Sehingga BI dapat menjaga kredibilitas dan independensi nya sebagai bank sentral. Utamanya dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Tim Analis Phintraco.

Sebaliknya, jika terjadi perubahan signifikan pada kebijakan moneter dan independensi BI terganggu, rupiah akan terdepresiasi lebih lanjut. "Selain itu, fluktuasi pasar obligasi pemerintah akan meningkat dan menjadi sentimen negatif terutama terhadap saham-saham perbankan," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....