Pekan Depan Pasar Diprakirakan Fluktuatif akibat Tekanan Konflik Geopolitik

  • 26 Jul 2026 14:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai rukar rupiah pekan depan diprakirakan akan kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS
  • Harga emas, jika pekan depan harganya naik, akan bergerak di rentang USD4.148-USD4.240 per troi ons
  • Konflik geopolitik yang berlanjut dan makin memanas berdampak luas ke pergerakan mata uang dan harga komoditas dunia

RRI.CO.ID, Jakarta - Konflik geopolitik yang berlanjut dan makin memanas berpotensi berdampak luas ke pergerakan mata uang dan harga komoditas dunia. Utamanya mata uang dolar AS, dan komoditas utama berupa minyak mentah serta emas.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar dan harga komoditas masih akan berfluktuatif sepekan ke depan. "Sentimen pasar utamanya akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan bank sentral AS dan perang dagang," ucapnya, Minggu, 26 Juli 2026.

Menururnya, perang dagang kembali mencuat, setelah Presiden Trump mengumumkan pengenaan tarif bea masuk tambahan 10-12,5 persen. Tarif itu dikenakan pada 60 negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia, sebagai hasil investigasinya mengenai aturan ketenagakerjaan terkait kerja paksa.

Sementara itu, konflik geopolitik antara Iran dan AS serta Rusia dan Ukraina diprakirakan masih akan berlanjut. Perang kemungkinan akan meluas, setelah Ukraina menyerang kapal Rusia yang disebut membawa peralatan militer ke Iran di Laut Kaspia.

Di sisi lain, lanjutnya, AS mulai menurunkan tensi serangannya ke Iran setelah harga minyak hampir menyentuh USD100 per barel. "Karena dampaknya ke harga avtur dan harga bensin di AS yang berdampak pada kenaikan harga makanan pokok," ujar Ibrahim.

Pemerintah Trump sendiri, menurut Ibrahim, takut kalau harga pangan mulai naik dan inflasi tinggi. Apalagi menjelang pemilu sela, buruknya kondisi ekonomi AS bisa menjadi senjata melawan kubu Trump.

Inflasi yang tinggi di AS juga akan mempengaruhi arah kebijakan bank sentral AS. The Fed akan melakukan pertemuan pekan depan, dan akan menyampaikan kebijakan suku bunganya.

"Bank sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan bisa menaikkan suku bunga. Inilah yang dikhawatirkan pasar minggu depan," kata Ibrahim dalam analisisnya.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada kinerja APBN. Jika harga minyak di atas harga minyak yang dipatok dalam APBN sebesar USD83 per barel, kebutuhan dolar akan meningkat.

Kondisi itu bersamaan dengan musim pembagian deviden perusahaan di semester kedua. Kebutuhan dolar AS yang tinggi akan membebani APBN dan membuat nilai tukar rupiah berisiko makin melemah.

Dari analisis itu, Ibrahim memperkirakan nilai rukar rupiah pekan depan akan kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS akan bergerak di rentang 100,4 hingga 102,4.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan harga minyak global kemungkinan di level USD82,6 per barel. "Bahkan ada peluang menembus harga USD102,8 per barel pada pekan depan," ucap Ibrahim.

Sedangkan harga emas, jika pekan depan harganya naik, akan bergerak di rentang USD4.148-USD4.240 per troi ons. Untuk itu, harga logam mulia akan bergerak di kisaran Rp2,68-Rp2,74 juta per gram.

Tapi jika harga emas dunia turun, akan bergerak di rentang USD3.968-USD3.871 per troi ons. Sementara harga logam mulia diprakirakan antara Rp2,59-Rp2,44 juta per gram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....