IHSG Masih Berada di Zona Merah pada Jeda Siang Perdagangan, Berada di Level 6204,63
- 24 Jul 2026 12:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG turun 1,75% atau 110,68 poin ke level 6204,63 pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat, 24 Juli 2026.
- Indeks mencapai level tertinggi 6268,53 dan level terendah 6161,13 dalam sesi perdagangan tersebut.
- IHSG dibuka melemah pada level 6266,97 sebelum turun lebih lanjut hingga penutupan sesi pertama.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 1,75% atau 110,68 poin ke level 6204,63.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6268,53. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6161,13. Sebelumnya, IHSG juga dibuka melemah berada pada level 6266,97.
Tim analis Phintraco Sekuritas menilai IHSG berisiko masih terkoreksi dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Jumat 24 Juli 2026. Setelah pada Kamis kemarin, IHSG ditutup turun 0,30 persen ke level level 6,315.
"Secara teknikal, IHSG masih di area positif meski sedikit mengalami penyempitan. Sehingga IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di 6.200-6.250," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 24 Juli 2026.
Berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah, sambung Tim Phintraco, diperkirakan akan menjadi faktor negatif. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan data jumlah uang beredar yang dirilis Bank Indonesia Rabu kemarin.
Jumlah uang beredar (M2) Indonesia meningkat 8,7 persen secara tahunan menjadi Rp10,432.8 triliun pada Juni 2026. Meskipun pertumbuhannya melambat dari pertumbuhan di bulan Mei sebesar 10,8 persen.
"Ini menunjukkan likuiditas di Indonesia masih meningkat, tetapi peningkatannya tidak secepat bulan sebelumnya," ucap Tim Phintraco. Di sisi lain, laju pertumbuhan kredit terakselerasi menjadi 12,6 persen di bulan Juni 2026.
Sementara itu lembaga pemeringkat global S&P, memberi peringkat terhadap 69 emiten korporasi dan infrastruktur yang diberi peringkat publik. Pemeringkatan dibagi dalam empat kategori sesuai dengan eksposur nya terhadap ketidaksesuaian mata uang, operasional, dan neraca.
"Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan. Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif, untuk membayar kewajiban keuangan," kata Tim Analis Phintraco.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....