Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Turun pada Semester I 2026

  • 23 Jul 2026 09:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp87,35 triliun atau turun 3,91 persen dibandingkan semester I 2025.
  • Korporasi yang menerbitkan surat utang pada semester I kebanyakan emiten swasta dengan nilai Rp62,9 triliun.

RRI.CO.ID, Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyatakan penerbitan surat utang korporasi sepanjang semester I 2026 masih tetap semarak. Meskipun secara kuantitas mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp87,35 triliun,” kata Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto, Rabu, 22 Juli 2026. “Secara tahunan nilainya mengalami penurunan 3,91 persen dibandingkan semester I 2025."

Menurut dia, ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya penerbitan surat utang korporasi tersebut. Salah satunya nilai surat utang yang jatuh temponya masih relatif rendah dibandingkan tahun lalu.

Namun, rasio surat utang yang diterbitkan dengan nilai jatuh temponya masih lebih tinggi yaitu 158,2 persen. “Artinya ada 58 persen surat utang yang diterbitkan nilainya lebih tinggi dibandingkan nilai jatuh temponya,” ucap Suhindarto.

Faktor lain yang menyebabkan turunnya penerbitan surat utang korporasi tahun ini adalah suku bunga tinggi. Akibatnya penerbitan surat utang menjadi lebih selektif, sebagian besar dengan peringkat A (44,78 persen) atau triple A (35,26 persen).

Korporasi yang menerbitkan surat utang pada semester I 2026 kebanyakan emiten swasta dengan nilai Rp62,9 triliun. Sedangkan penerbitan obligasi perusahaan yang berafiliasi dengan pemerintah atau BUMN hanya sekitar Rp24,4 triliun.

Yang menarik, penerbitan surat utang untuk tujuan investasi mencapai Rp19,48 triliun di semester I 2026. “Ini berarti meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp3,14 triliun,” ujar Suhindarto.

Meski begitu, penerbitan surat utang untuk keperluan modal kerja dan refinancing masih lebih tinggi. Untuk modal kerja tercatat besarnya mencapai Rp44,77 triliun, turun dari Rp56,26 triliun pada semester I 2025.

Sedangkan penerbitan surat utang untuk refinancing tercatat sebesar Rp23,10 triliun. Ini juga merupakan penurunan dibandingkan semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp31,49 triliun.

Sektor usaha yang paling banyak menerbitkan surat utang adalah kehutanan, pulp, dan kertas sebesar Rp12,8 triliun. Kemudian perusahaan induk Rp10,7 triliun, pembiayaan Rp8,3 triliun, perbankan Rp8,1 triliun, dan pertambangan Rp7,8 triliun.

Menurut Suhindarto, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk pada semester I 2026 mencapai Rp80,3 triliun. “Ini merupakan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp90,3 triliun,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....