Rupiah Tetap Loyo hingga Penutupan Perdagangan, meski BI Pertahankan Suku Bunga
- 22 Jul 2026 20:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,16 persen atau 29 poin menjadi Rp17.917 per dolar AS
- Pasar tidak merespons poitif pengumuman Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga atau BI Rate di level 5,75 persen di bulan Juli 2026
- Rupiah menurutnya, masih tertekan karena faktor ekternal. Utamanya perkembangan konflik AS-Iran yang memicu situasi kembali memanas di Timur Tengah
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah bergerak melemah sepanjang hari ini hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,16 persen atau 29 poin menjadi Rp17.917 per dolar AS.
Pasar tidak merespons poitif pengumuman Bank Indonesia (BI) mengenai kebijakan suku bunga. BI menyatakan mempertahankan suku bunga atau BI Rate di level 5,75 persen.
“BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing masuk ke pasar uang Indonesia. Kebijakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 22 Juli 2026.
Rupiah menurutnya, masih tertekan karena faktor eksternal. Utamanya perkembangan konflik AS-Iran yang memicu situasi kembali memanas di Timur Tengah.
“AS sudah 11 hari berturut-turut melakukan serangan sejumlah lokasi di Iran. Sedangkan Tehran melakukan serangan balasan ke lokasi militer AS di kawasan Teluk, seperti di Bahrain, Kuwait dan Yordania,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menutup perairannya, setelah Arab Saudi menyeran wilayah Yaman. Penutupan jalur pelayaran itu memicu kekhawatiran akan kelancaran pasokan minyak, setelah Selat Hormuz juga ditutup oleh Iran.
“Beberapa kapal tanker minyak terpaksa mengubah rute pelayarannya,” ucap Ibrahim. Sementara itu, ekpektasi pasar akan kenaikan suku bunga the Fed di tahun ini meningkat tajam.
“Menguatnya ekspektasi pasar didorong oleh harga minyak dunia yang tinggi karena gangguan pasokan. Harga minyak yang tinggi dikhawatirkan mendorong kenaikan inflasi, sehingga suku bunga diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama,” ujar Ibrahim.
Data Prime Terminal, tambah Ibrahim, menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September, probabilitasnya sekitar 68 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....