IHSG Ditutup di Zona Hijau, Menguat ke Level 5.744,56

  • 02 Jul 2026 16:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 0,87 persen atau 49,44 poin ke level 5.744,56 pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026.
  • Tim Phintraco Sekuritas mencatat tekanan berasal dari penurunan PMI manufaktur ke 46,9, defisit neraca perdagangan USD1,61 miliar, serta inflasi Juni 2026 yang meningkat menjadi 3,34 persen.
  • Sentimen investor masih dibayangi kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tekanan pada cadangan devisa Indonesia meski BI telah menaikkan suku bunga.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. IHSG naik 49,44 poin atau 0,87 persen ke level 5.744,56.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau setelah dibuka di level 5.709,84. Pada hari ini Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.806,72 dan terendah 5.704,49.

Sebanyak 395 saham menguat, 219 saham melemah, dan 169 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 20,25 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp10,87 triliun.

Tim Phintraco Sekuritas mencermati Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia per Juni 2026 yang turun ke level 46,9. Sebulan sebelumnya, PMI Indonesia masih berada di level 50 atau zona ekspansi.

Level PMI manufaktur tersebut merupakan yang terendah sejak Juni 2025, sekaligus menandakan kontraksi kedua pada tahun ini. “Penurunan PMI antara lain disebabkan koreksi pada pesanan baru dan turunnya penjualan ekspor,” katanya.

Kemudian secara tak terduga neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Ini akibat penurunan ekspor hingga 5,73 persen sementara impor tumbuh 22,16 persen secara tahunan.

Tim Phintraco menyebutkan penurunan ekspor itu di luar ekspektasi yang sebelumnya diperkirakan tumbuh 6,4 persen. Sebaliknya pertumbuhan impor ternyata lebih tinggi dari estimasi yang sebesar 19,5 persen.

Sementara itu, laju inflasi terakselerasi ke level 3,34 persen per Juni 2026 dari 3,08 persen sebulan sebelumnya. Jelas di atas perkiraan yang sebesar 3,2 persen secara tahunan.

"Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, tetapi masih dalam kisaran target Bank Indonesia,” kata Tim Phintraco. Kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 menjadi pemicu utama melonjaknya angka inflasi.

Di sisi lain, Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia tetap tertekan. Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI rate sebanyak 100 basis poin (bps).

"Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal,” ucap Tim Phintraco. Termasuk mengenai rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....