Pasar Tunggu Data Ekonomi, Rupiah Ditutup Menguat 71 Poin

  • 29 Jun 2026 19:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penguatan rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah menguat 0,40 persen atau 71 poin menjadi Rp17.851 per dolar AS
  • Pelaku pasar menunggu rilis data indikator ekonomi, diantaranya data neraca perdagangan dan perkembangan inflasi yang akan dirilis awal Juli lusa
  • Dibandingkan mata uang negara lainnya di kawasan, rupiah mengalami penurunan paling parahkarena terdepresiasi hampir 7 persen sejak Januari hingga Juni 2026

RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah menguat 0,40 persen atau 71 poin menjadi Rp17.851 per dolar AS.

Rupiah menguat karena pelaku pasar bersikap ‘wait and see’, menunggu rilis data indikator ekonomi awal Juli lusa. “Diantaranya data neraca perdagangan dan perkembangan inflasi,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 29 Juni 2026.

Kedua data tersebut, menurutnya, menjadi pertimbangan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah selanjutnya. Pelaku pasar juga merespons positif rencana Presiden Prabowo Subianto restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

“Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan akan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi hanya sekitar 250 perusahaan. Pemangkasan jumlah BUMN ini bertujuan mengurangi beban anggaran yang besar, sekaligus meningkatkan efisiensi,” ujar Ibrahim.

Di sisi lain, pemerintah akan menempatkan kembali dana yang ada di BI ke bank-bank milik negara (Himbara). Jumlahnya sekitar Rp281 triliun, yang sebelumnya sempat ditarik pemerintah dan dikembalikan ke Bank Indonesia (BI).

Selain itu, pemerintah menyiapkan Rp100 triliun sebagai dana siaga, dan sewaktu waktu bisa ditempaykan ke perbankan. “Penempatan tersebut sebagai likuiditas untuk memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat,” ucap Ibrahim.

Sementara itu, Managing Director of Research, PT Samuel Sekuritas Harry Su mengatakan, ada ada peluang penguatan rupiah pada semester II -2026. Penguatannya secara bertahap dan terbatas ditopang oleh intervensi pasar dan sinergi kebijakan dengan pemerintah.

“Tapi secara umum, prospek rupiah ke depan masih berisiko mengalami tekanan atau cenderung melemah dalam jangka pendek,” kata Harry. Penyebabnya adalah kelanjutan perang AS-Iran dan sikap the Fed apakah masih ‘hawkish’ (ketat) dengan menaikkan suku bunga.

Sedangkan faktor dalam negeri yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah adalah Defisit Neraca Pembayaran dan transaksi berjalan. Sentimen fiskal dan peringkat utang, serta kebijakan intervensi Bank Indonesia.

Menurut Harry, rupiah mengalami penurunan paling parah dibandingkan mata uang lainnya di kawasan. Sejak Januari hingga Juni 2026, rupiah terdepresiasi hampir 7 persen.

Sedangkan ringgit Malaysian terdepresiasi 0,7 persen, peso Filipina turun hingg 4 persen. Sedankan baht Thailand, terdeprasiasi hingga 5,6 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....