IHSG Berbalik Melemah 0,97 ke Level 5.838 pada Penutupan Sesi I Senin
- 29 Jun 2026 13:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG berbalik melemah 0,97 persen ke level 5.838,94 pada akhir perdagangan sesi I setelah sempat dibuka di zona hijau.
- Sentimen geopolitik Amerika Serikat-Iran dan kekhawatiran terhadap Selat Hormuz kembali membebani pasar serta meningkatkan kekhawatiran investor.
- Pelaku pasar pekan ini mencermati data manufaktur China, inflasi Eropa, dan pidato Gubernur The Fed sebagai penentu arah IHSG.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada akhir perdagangan sesi I hari ini. Indeks terpantau turun 0,97 persen 5.838, 94 ke setelah berada di zona hijau pada saat pembukaan.
Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG terpantau sempat menyentuh level terendahnya di 5.834. Sementara tertingginya mencapai 5,942,77.
Untuk nilai transaksi perdagangan hingga jeda siang ini tidak seramai biasanya, yakni hanya mencapai angka Rp 4 triliun. Sementara volume perdagangan saham mencapai 7,5 miliar lembar pada bursa hari ini.
Saham emiten juga terpantau kembali dominan merah yakni mencapai 378. Sementara itu 244 saham terpantau harganya naik dan 183 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
"Kami memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas. Dengan support dan resistance di kisaran 5.735 - 6.080," kata tim Pilarmas Investindo.
Di satu sisi, lanjutnya, situasi geopolitik antara Amerika serikat dan Iran kembali dihadapi ketidakpastian. Hal ini setelah kabar bahwa Iran meluncurkan serangan ke fasilitas militer AS di Kuwait dan juga Bahrain sebagai aksi balasan.
Terkait hal ini, permasalahan Selat Hormuz tentu masih akan menjadi perhatian Amerika dan Iran. Dikarenakan setiap terjadinya perang akan menghambat pembukaan Selat Hormuz jauh lebih lama.
Tim Pilarmas Investindo menilai hal ini yang membuat pelaku pasar dan investor semakin khawatir karena ketidakpastian masih belum berkurang. Bahkan justru semakin menghambat pemulihan ekonomi pada kuartal kedua mendatang.
Mengawali awal bulan, Analis memperkirakan, Inflasi akan mengalami kenaikkan ditengah naiknya harga energi di dalam negeri sebelumnya. "Kita lihat seberapa jauh IHSG akan mengalami pelemahan pekan ini, atau justru sebaliknya, IHSG akan bangkit menuju bulan Juli," kata tim Pilarmas Investindo.
Investor juga akan mencermati aktivitas manufaktur China, inflasi kawasan Eropa, serta pidato Gubernur The Fed, Kevin Warsh. Rangkaian data tersebut diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.
Pekan ini juga menandai berakhirnya perdagangan bulan Juni. Hingga penutupan Jumat lalu, S&P 500 tercatat turun sekitar 3 persem sepanjang bulan ini, Nasdaq merosot lebih dari 6 persen, sementara Dow Jones masih mencatat kenaikan lebih dari 1 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....