Rupiah Menguat Tipis dalam Penutupan Perdagangan Hari Ini
- 25 Jun 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah terpantau naik 0,05 persen atau 9 poin menjadi Rp17.943 per dolar AS
- Sentimen pasar uang dipengaruhi oleh perkembangan kesepakatan AS-Iran. Kesepakatan awal telah membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz
- Namun penurunan harga minyak ini belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat the Fed
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS meski tipis, dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,05 persen atau 9 poin menjadi Rp17.943 per dolar AS.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen pasar uang dipengaruhi oleh perkembangan kesepakatan AS-Iran. Kesepakatan awal telah membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz sehingga meredakan kekhawatiran akan pasokan energi.
"Sekitar 20 juta barel minyak telah keluar dari Selat Hormuz dalam waktu 24 jam," kata Ibrahim mengutip pernyataan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright, Kamis, 25 Juni 2026. Kondisi pelayaran akan kembali normal beberapa pekan depan karena harus dilakukan pembersihan ranjau di Selat tersebut.
Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Oman, Qatar, Irak dan Iran membuka dialog terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Sementara itu, harga minyak dunia juga sudah turun signifikan sehingga memberikan harapan positif bagi kestabilan harga ke depan.
"Namun penurunan harga minyak ini belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat the Fed. Di kalangan anggota the Fed sendiri terjadi perbedaan pandangan terkait kebijakan suku bunga," ucap Ibrahim.
Sebanyak delapan dari 19 anggota dewan di the Fed, memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026. Sedangkan mayoritas anggota lainnya memperkirakan suku bunga akan tetap stabil.
Saat ini, tambah Ibrahim, pasar akan fokus pada data indeks pengeluaran konsumsi pribadi di AS. Serta angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan klaim pengangguran mingguan.
"Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati optimisme pemerintah bahwa kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik," kata Ibrahim. Apalagi, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61 persen.
Optimisme itu didorong oleh upaya Pemerintah mengurangi ketergantungan impor minyak dari kawasan Timur Tengah. Impor minyak Indonesia dari Timur Tengah semarangan hanya sekitar 20 persen.
Langkah diversifikasi pasokan minyak telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon. "Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela. Melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART)," ucap Ibrahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....