IHSG Anjlok ke Level 5.883,88 pada Penutupan Hari Ini
- 24 Jun 2026 16:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup melemah 217,45 poin atau 3,56 persen ke level 5.883,88 pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026
- Pelemahan terjadi setelah investor merespons kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang meningkatkan ketidakpastian pasar
- Kondisi tersebut mendorong investor memilih bersikap wait and see sehingga tekanan jual mendominasi perdagangan sepanjang sesi
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 5.883,88 atau turun 217,45 poin (3,56 persen).
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat bergerak dan menyentuh posisi terendah pada 5.876,93 hari ini. Pada awal perdagangan, IHSG sempat menguat ke level 6.128,27 sebelum berbalik melemah dan ditutup di zona merah.
Pergerakan IHSG didominasi 611 saham melemah, 98 saham menguat, dan 104 saham stagnan. Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp15,16 triliun.
Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 26,94 miliar lembar. Dengan frekuensi lebih dari 2,03 juta kali transaksi.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pergerakan pasar. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan ekonomi global dan prospek pasar modal Indonesia.
Dari eksternal, bursa saham Asia bergerak bervariasi seiring perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kemajuan upaya perdamaian kedua negara membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global sehingga mendorong penurunan harga minyak dunia.
Pilarmas menilai sentimen positif tersebut belum mampu mendorong penguatan pasar secara signifikan. Pasalnya, investor masih menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index AS yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat.
Data inflasi tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran arah kebijakan moneter AS ke depan. Sebelumnya, The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya, namun tetap memberikan sinyal kemungkinan pengetatan kebijakan apabila tekanan inflasi belum sepenuhnya terkendali.
"Pelaku pasar masih mencermati data PCE AS yang akan menjadi salah satu acuan utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Rabu, 24 Juni 2026. Dari dalam negeri, pasar juga merespons keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market.
Meski demikian, MSCI memperpanjang masa peninjauan terhadap aspek transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia hingga November 2026. Menurut Pilarmas, keputusan tersebut belum sepenuhnya memberikan kepastian bagi investor.
Pasar masih menilai terdapat peluang berbagai skenario evaluasi terhadap status pasar modal Indonesia apabila reformasi yang diharapkan MSCI belum terealisasi secara optimal. "Kondisi tersebut membuat investor cenderung menahan diri sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait hasil evaluasi MSCI dan arah kebijakan pasar modal nasional," ujarnya.
Pilarmas menambahkan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat investor memilih melakukan aksi wait and see. Akibatnya, tekanan jual masih mendominasi perdagangan sehingga IHSG ditutup di zona negatif pada akhir sesi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....