Respons Pengumuman MSCI, IHSG Diprakirakan Masih Akan Melemah
- 24 Jun 2026 08:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG diprakirakan bakal menguji level 6.000 dipicu sentimen negatif dari luar serta pengumuman hasil kajian MSCI.
RRI.CO.ID, Jakarta – Pelaku pasar masih mencermati hasil tinjauan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sehingga, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berisiko melemah pada perdagangan Rabu 24 Juni 2026.
“IHSG berpeluang menguji level 6.000, dipicu sentimen negatif dari eksternal serta hasil pengumuman MSCI,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Menurut analisis tersebut, IHSG akan bergerak pada rentang 6.000 untuk level support dan 6.200 untuk level resistansi.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,25 persen ke level 6.101. Aksi jual saham oleh investor asing masih terjadi dengan nilai sekitar Rp311,6 miliar.
MSCI Annual Market Classification Review memang masih menempatkan Indonesia pada kategori emerging market. Namun, menurut MSCI, para pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait kelayakan investasi di Indonesia.
MSCI sebenarnya mengakui reformasi transparansi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia. Baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), maupun Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Transparansi yang dimaksud termasuk keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Kemudian klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan konsentrasi kepemilikan saham tinggi, serta kenaikan persyaratan free float minimum menjadi 15 persen.
MSCI menyatakan akan terus menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas berkelanjutan dari langkah-langkah tersebut. Khususnya dalam konteks penentuan free float dan penilaian kelayakan investasi yang lebih luas.
MSCI akan melakukan review kembali November 2026. Lembaga internasional itu akan menilai apakah ada kemajuan dari langkah yang telah dilakukan pasar modal Indonesia.
Ada risiko jika MSCI tidak melihat kemajuan yang cukup pada saat review indeks November 2026. Lembagaitu akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia.
"Opsi itu termasuk konsultasi reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market," ucap Tim Phintraco. Di sisi lain, pelaku pasar akan melihat dampak stimulus ekonomi semester II 2026 yang digulirkan pemerintah.
Alokasi anggaran untuk delapan program insentif itu mencapai sekitar Rp26.34 triliun. Stimulus diberikan dalam bentuk insentif transportasi, program magang dan vokasi, serta untuk bantuan pangan.
“Adanya stimulus tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat,” ujarnya. Terutama yang selama ini sangat tertekan oleh inflasi dan kenaikan suku bunga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....