IHSG Dibuka Turun 0,91 Persen, Arah Kebijakan Suku Bunga Bayangi Pasar
- 18 Jun 2026 11:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka turun 0,91 persen ke level 6.191 pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, di tengah penantian hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.191 pada pembukaan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Posisi tersebut lebih rendah sekitar 56,68 poin atau 0,91 persen dibandingkan pada penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.220.
Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance pada rentang 6.170-6.400. Pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan menjadi sentimen berpengaruh.
“Kami memproyeksikan BI masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen,” ujar tim Pilarmas. “Hal ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga arus modal asing tetap masuk ke domestik.”
Selain itu, lanjut Tim Pilarmas, tekanan eksternal juga masih cukup tinggi. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS masih membayangi pasar global, di samping dan risiko inflasi impor yang perlu terus diantisipasi.
Potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di AS masih menjadi tantangan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. “Karena itu, selisih imbal hasil yang kompetitif perlu dijaga agar terjadi arus keluar modal berlebihan dari pasar saham dan obligasi domestik,” katanya.
Dari dalam negeri, kenaikan suku bunga dinilai dapat membantu memperkuat kredibilitas kebijakan moneter BI untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar. Kenaikan 25 bps berpotensi memberikan sentimen positif bagi rupiah dan pasar obligasi yang meningkatkan kepercayaan investor.
Namun, kebijakan ini dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha dan menahan laju pertumbuhan kredit perbankan. Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Hal ini karena meningkatnya biaya pinjaman dan melemahnya daya beli masyarakat. Misalnya sektor properti, otomotif, dan konsumsi non-primer
Bagi sektor perbankan, dampaknya cenderung beragam. Bank-bank besar berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan margin bunga bersih (NIM).
Namun, pertumbuhan kredit dapat melambat seiring meningkatnya kehati-hatian debitur dalam melakukan ekspansi. Sementara itu, sektor komoditas dan emiten berorientasi ekspor relatif lebih defensif.
Meski berisiko, kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu juga mempertahankan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Dengan stabilitas makro yang terjaga, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang akan lebih besar. Apalagi ketika tekanan eksternal seperti konflik geopolitik global sudah mulai mereda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....