IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.254, Naik 247,31 Poin

  • 15 Jun 2026 16:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 247,31 poin atau 4,12 persen ke level 6.254,97 pada perdagangan 15 Juni 2026, dengan 603 saham menguat.
  • Penguatan didorong membaiknya sentimen global, termasuk meredanya ketegangan AS-Iran yang menurunkan kekhawatiran pasar dan mendukung minat investor terhadap aset berisiko.
  • Peluang penguatan IHSG masih terbuka selama bertahan di atas level 5.900, namun kepastian kebijakan ekonomi dan arus dana asing tetap menjadi faktor penting.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat di penutupan sesi perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 6.254,97 atau naik 247,31 poin (4,12 persen).

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau sepanjang sesi perdagangan hari ini. IHSG dibuka pada level 6.118,72 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.345,8.

Mayoritas saham mengalami penguatan. Tercatat sebanyak 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham lainnya stagnan.

Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp29,65 triliun. Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 53,61 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 3,23 juta kali transaksi.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam waktu dekat. Menurutnya, indeks berpotensi menguji level resistance 6.233 selama mampu bertahan di atas area support 5.900.

“Sentimen global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tekanan utama pasar kini mulai menunjukkan perbaikan. Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuka kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, menurunkan kekhawatiran pasar," ujarnya, Senin, 15 Juni 2026.

Hendra mengatakan meredanya ketegangan geopolitik turut mendorong penurunan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membantu menekan inflasi global dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.

Menurutnya, perbaikan sentimen global juga terlihat dari penguatan mayoritas bursa saham dunia. Selain itu, indeks volatilitas VIX tercatat menurun yang menandakan tingkat kekhawatiran investor mulai mereda.

“Hal ini menunjukkan tingkat ketakutan investor mulai mereda,” ujarnya. Menurut Hendra, persepsi risiko terhadap aset Indonesia juga mulai membaik.

Ia menambahkan, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun mengalami penurunan. Sementara itu, ETF Indonesia atau EIDO yang diperdagangkan di Amerika Serikat menunjukkan tren kenaikan.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang masuknya kembali aliran dana asing ke pasar domestik. Namun, Hendra mengingatkan tantangan terbesar saat ini masih berasal dari faktor dalam negeri.

“Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi dan kepastian regulasi. Begitu pula efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih kredibel,” ujarnya.

Menurut Hendra, ketidakpastian kebijakan domestik dalam beberapa bulan terakhir justru lebih membebani pasar dibandingkan sentimen global. Karena itu, pemerintah perlu memberikan sinyal yang konsisten terkait keberlanjutan fiskal untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha.

Hendra menegaskan peluang penguatan IHSG masih terbuka selama mampu bertahan di atas level 5.900. Namun, tren bullish yang lebih kuat membutuhkan dukungan berupa masuknya dana asing secara konsisten ke pasar saham domestik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....