Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Tumbuh Sebesar 1,9 Persen
- 15 Jun 2026 17:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia bulan April 2026 tercatat sebesar USD439,8 miliar. Jumlah itu setara dengan Rp7.788, 42 triliun (kurs hari ini Rp17.709 per dolar AS)
- Jumlah itu tumbuh sebesar 1,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 sebesar 1 persen
- Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada April 2026 stabil sebesar 29,6 persen. ULN didominasi oleh ULN Jangka Panjang dengan pasar mencapai 84,5 persen dari total ULN
RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 sebesar USD439,8 miliar. Jumlah itu setara dengan Rp7.788, 42 triliun (kurs hari ini Rp17.709 per dolar AS).
Jumlah itu tumbuh sebesar 1,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 sebesar 1 persen. Peningkatan ULN pada April disebabkan pertumbuhan ULN sektor publik, sementara itu ULN swasta mengalami kontraksi.
ULN pemerintah pada April tercatat sebesar USD216,4 miliar atau tumbuh sebesar 3,7 persen. Pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar 3,8 persen.
“Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri yang tumbuh melambat. Sementara itu, aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) tetap mencatatkan net inflow (aliran masuk),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam Laporan Perkembangan ULN Indonesia, Senin, 15 juni 2026.
Aliran masuk modal asing, kata Denny, memcerminkan masih terjaganya kepercayaan investor pada prospek perekonomian Indonesia. ULN Pemerintah antara lain dimanfaatkan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa pendidikan, transportasi, dan membiayai jaminan sosial wajib.
Sementara itu, ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar USD193,2 miliar, secara tahun terkontraksi 0,7 persen. Kontraksinya lebih rendah dibandingkan di bulan Maret 2026 yang sebesar 1,4 persen.
Perkembangan ULN swasta utamanya didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan yang terkontraksi 5 persen pada April 2026. Kontraksinya lebih rendah dibandingkan bulan Maret yang terkontraksi sebesar 6,3 persen secara tahunan.
ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi. Pengadaan Listrik dan Gas serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 79,6 persen dari total ULN swasta.
"Dengan demikian, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada April 2026 stabil sebesar 29,6 persen. ULN didominasi oleh ULN Jangka Panjang dengan pasar mencapai 84,5 persen dari total ULN," ucap Ramdan Denny.
BI memastikan akan terus mengotimalkan ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang mempengaruhi stabilitas perekonomian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....