IHSG Turun pada Pembukaan Sesi I Perdagangan ke Level 5744,06

  • 10 Jun 2026 09:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan Rabu 10 Juni 2026 ke level 5744,06.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 5744,06 atau turun 2,59 poin dibandingkan sebelumnya.

Analis memprediksi IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu 10 Juni 2026. Sebelumnya pada penutupan perdagangan Selasa 9 Juni 2026, IHSG naik tajam hingga 7,57 persen ke level 5.746,65.

Namun, kenaikan ini masih disertai aksi net sell (jual bersih) saham oleh investor asing senilai Rp2,59 triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, BBCA, BMRI, TPIA dan AMMN.

“IHSG berpotensi tes support di 5.600,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Jika kuat bertahan di level tersebut, lanjut dia, IHSG dapat melanjutkan kenaikan dengan target di 5.800-6.000.

HSG melonjak tajam seiring penguatan bursa saham di Asia dan perkembagan di dalam negeri. Dari sisi eksternal juga ada sinyal meredanya konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel.

Harga minyak turun setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, menyatakan, trafik kapal di Selat Hormuz meningkat signifikan. Presiden AS, Donald Trump, menambahkan kesepakatan antara negaranya dan Iran berpotensi tercapai dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Menurut Trump, kesepakatan damai akan membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Namun, bursa saham AS melemah pada Selasa 9 Juni 2026 karena aksi jual saham-saham teknologi terutama produsen chip.

Kondisi berbeda berlangsung di bursa saham Asia, di mana saham-saham teknologi dan semikonduktor justru naik. “Ini mendorong penguatan bursa saham di kawasan tersebut, dipimpin Kospi dari Korea Selatan yang melonjak hingga 8,2 persen," ucap Fanny.

Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas mencermati perkembangan di dalam negeri. Di antaranya keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen.

"Kenaikan suku bunga di luar jadwal memberi sentimen positif ke pasar,” katanya. Ini karena nilai tukar rupiah berbalik menguat ke level Rp18.065 per dolar AS.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga mengambil sejumlah langkah lain untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, DPR melakukan koordinasi dengan sejumlah institusi untuk menghadapi dinamika pasar modal.

DPR telah melakukan pertemuan dengan Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen (Persero), serta bank Himbara. “Salah satu opsi yang dibahas adalah rencana buyback saham bank-bank BUMN yang tercatat di BEI," ujar Tim Phintraco.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....