IHSG Dibuka di Zona Merah, Turun Tipis ke Level 6.599,21
- 19 Mei 2026 09:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis ke level 6.599,21 pada pembukaan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
RI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis pada pembukaan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.599,21 atau turun 0,027 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Meski begitu, pergerakan IHSG diperkirakan berpeluang rebound atau berbalik menguat pada perdagangan hari ini. Sebelumnya, IHSG terus terkoreksi selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Analis memperkirakan IHSG memiliki peluang mengalami penguatan teknikal dalam jangka pendek. Kondisi tersebut didorong potensi pembalikan arah setelah tekanan jual dalam beberapa hari terakhir.
Hal itu dikatakan Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Selasa, 19 Mei 2026 di Jakarta. “IHSG berpotensi short term technical rebound (berbalik menguat secara teknis dalam jangka pendek),” ujarnya.
Menurut Fanny, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 6.460 hingga 6.500. Sementara level resistansi diproyeksikan berada di kisaran 6.650 hingga 6.700.
Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, IHSG tercatat turun 1,85 persen ke level 6.599,24. Pelemahan tersebut juga dibarengi aksi jual bersih investor asing atau net sell sebesar Rp460 miliar.
Saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain ANTM, BREN, AMMN, ADRO, dan DSSA. Aksi jual asing masih menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar domestik.
Di sisi global, mayoritas bursa saham dunia justru ditutup melemah. Sentimen konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia masih membayangi pergerakan pasar.
Di Amerika Serikat (AS), indeks Nasdaq tercatat terkoreksi akibat kenaikan harga minyak. Pasar juga tertekan oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan saham teknologi.
"Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan biaya pinjaman, yang akan bertahan lebih lama," ucap Fanny. Indeks S&P 500 juga nyaris stagnan, hanya Dow Jones Industrial Average masih mampu bertahan di zona hijau.
Bursa saham Asia Pasifik juga bergerak cenderung melemah dipicu kekhawatiran inflasi global. “Serangan drone di kawasan Teluk memicu gangguan pasokan energi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global," ujarnya.
Menurut Fanny, pelaku pasar global juga mulai berhati-hati menjelang laporan keuangan Nvidia. Laporan perusahaan chip kecerdasan buatan itu diperkirakan menjadi penentu arah reli saham teknologi pekan ini.
Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 0,97 persen. Sementara Hang Seng Hong Kong melemah 1,11 persen, CSI 300 Tiongkok turun 0,54 persen, dan Taiex Taiwan merosot 0,68 persen.
Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026. "Pelaku pasar menanti arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....