Penutupan Perdagangan, Rupiah Makin Menguat ke Arah Rp17.333 per Dolar AS

  • 07 Mei 2026 16:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,31 persen atau 54 poin menjadi Rp17.333 per dolar AS
  • Dari sisi eksternal, optimisme berakhirnya perang AS-Iran menjadi sentimen positif pasar
  • Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati kemungkinan penyesuaian harga BBM lebih lanjut

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,31 persen atau 54 poin menjadi Rp17.333 per dolar AS.

Dari sisi eksternal, optimisme berakhirnya perang AS-Iran menjadi sentimen positif pasar. "Iran mengatakan bahwa mereka sedang meninjau proposal perdamaian AS," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 7 Mei 2026.

Sementara itu, Presiden Trump mengatakan dirinya yakin Iran menginginkan kesepakatan. Sumber mediasi Pakistan mengatakan, kesepakatan hampir tercapai mengenai memorandum satu halaman yang secara resmi akan mengakhiri konflik.

"AS mengharapkan tanggapan Iran mengenai beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan. Ini adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai kedua pihak sejak perang dimulai," ujar Ibrahim mengutip media AS, Axios.

Dari sisi ekonomi, perhatian pasar sedang tertuju pada data klaim pengangguran awal dan pidato sejumlah pejabat the Fed. Pelaku pasar juga bersiap untuk data laporan ketenagakerjaan AS bulan April yang akan dirilis Jumat, 8 Mei 2026.

Data tersebut akan menentukan langkah the Fed selanjutnya terkait kebijakan suku bunga. Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati kemungkinan penyesuaian harga BBM lebih lanjut.

"Potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) semakin terbuka karena tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global. Ditambah beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," ujar Ibrahim.

Kondisi geopolitik global yang memanas membuat harga energi bertahan di level tinggi dalam waktu yang tidak singkat. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan komponen 'crack spread' yakni selisih harga minyak mentah dan produk turunannya seperti BBM.

Dengan 'crack' yang masih tinggi, tambah Ibrahim, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi tertekan.

"Apabila harga minyak dunia seperti Brent bertahan di level USD120 per barel dalam beberapa bulan. Maka penyesuaian harga BBM menjadi sesuatu yang sulit dihindari," kata Ibrahim lagi.

Dalam kondisi tersebut pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, opsi tersebut dinilai akan menjadi langkah terakhir mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga kelangsungan industri, terutama dalam meningkatkan produksi dalam negeri melalui hilirisasi. Bila bahan baku berbasis energi bisa diproduksi lokal, industri di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan importasi.

"Situasi saat ini merupakan momen yang tepat untuk berbenah. Antara lain dengan menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan," ujar Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....