Komunitas Intelektual Didorong Perkuat Literasi Kripto dan Blockchain

  • 06 Mei 2026 19:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Melalui sesi "The Future of Blockchain and Cryptocurrency", PINTU memperluas literasi aset digital kepada komunitas intelektual.
  • Peserta dibekali pemahaman tentang teknologi blockchain, perkembangan ekosistem kripto, hingga potensi tokenisasi aset yang memungkinkan investasi lebih inklusif dan global.
  • Pertumbuhan aktivitas kripto global dan penggunaan aplikasi di Indonesia menunjukkan tren positif, namun edukasi tetap diperlukan agar masyarakat memahami risiko dan berinvestasi secara bijak.

RRI.CO.ID, Jakarta - Minat terhadap aset kripto terus meningkat, namun belum dimbangi pemahaman masyarakat terhadap mata uang digital tersebut. Melihat kondisi ini, PT Pintu Kemana Saja (PINTU) menggandeng Mensa Indonesia menggelar sesi edukasi bertajuk "The Future of Blockchain and Cryptocurrency".

Acara ini diikuti lebih dari 50 anggota komunitas intelektual tersebut. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas trading, tetapi juga menggali lebih dalam soal teknologi blockchain dan potensinya ke depan.

Chairman Mensa Indonesia, Satriadi Gunawan, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, anggota mendapatkan wawasan baru tentang dunia kripto yang selama ini sering dipandang sempit.

"Kripto tidak hanya soal trading, tetapi juga teknologi blockchain dengan potensi besar. Kami berharap anggota bisa memahami peluang sekaligus risikonya," kata Satriadi, seperti dikutip, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa pemahaman yang komprehensif menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak pada euforia semata.

Dalam sesi tersebut, PINTU membahas berbagai topik, mulai dari dasar blockchain, perkembangan ekosistem kripto, hingga tren terbaru seperti tokenisasi aset. Blockchain & Crypto Specialist PINTU, Ari Budi Santosa menjelaskan, kripto kini berkembang menjadi lebih dari sekadar instrumen investasi.

Sebagai platform investasi aset kripto yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PINTU memanfaatkan forum ini untuk membedah berbagai aspek industtri, mulai dari dasar blockchain, dinamika ekosistem kripto, hingga tren terbaru seperti tokenisasi aset.

"Sekarang kripto semakin relevan sebagai teknologi, dan tidak lagi bisa dipersepsikan hanya sebagai instrumen trading. Blockchain memungkinkan transaksi yang lebih transparan dan efisien," ujarnya.

Ari juga menyoroti tren tokenisasi aset, di mana aset seperti emas, saham, hingga instrumen keuangan lainnya bisa diubah menjadi token digital dan diperdagangkan secara global. Hal ini dinilai membuka akses investasi yang lebih luas bagi masyarakat.

Tren pertumbuhan kripto pun terlihat secara global maupun di Indonesia. Aktivitas retail kripto dunia pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai USD79 miliar. Sementara itu, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan penggunaan aplikasi kripto yang cukup tinggi.

Melihat perkembangan tersebut, PINTU menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak hanya tergiur peluang, tetapi juga memahami risiko. "Edukasi akan membantu masyarakat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak," ucap Ari.

Kolaborasi antara PINTU dan Mensa Indonesia menjadi contoh bagaimana literasi dapat dibangun melalui dialog yang setara, bukan sekadar promosi melainkan pertukaran gagasan. Di era ketika teknologi bergerak lebih cepat dari regulasi dan pemahaman publik, diskusi semacam ini tampaknya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....