IHSG Terkoreksi pada Pembukaan Perdagangan, Investor Cermati Tekanan Global
- 05 Mei 2026 09:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka turun ke level 6.968,57 atau melemah 0,05 persen pada awal perdagangan Selasa, 5 Mei 2026.
- IHSG diperkirakan akan bergerak konsolidatif pada kisaran 6.900 hingga 7.100.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.968,57 atau turun 3,39 poin (0,05 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada Senin, 4 Mei 2026, IHSG ditutup menguat pada level 6971,95 atau naik sebesar 15,14 poin (0,22 persen). Saat itu tercatat sebanyak 327 saham naik, 357 saham turun, dan 134 saham stagnan.
Pelaku pasar saat ini cenderung bersikap hati-hati dan memilih untuk menunggu perkembangan situasi global dan domestik. Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG diperkirakan masih akan terbatas pada rentang tertentu.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut IHSG berpotensi bergerak konsolidatif pada kisaran level 6.900 hingga 7.100. “Sehingga IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.900-7.100,” katanya.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari kinerja sektor manufaktur yang mulai melemah. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke level 49,1 dari sebelumnya 50,1.
“Ini merupakan level terendah sejak Juni 2025,” ujar Tim Phintraco. Penurunan ini disinyalir dipengaruhi oleh dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar USD3,32 miliar. Ini berarti lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai USD4,33 miliar.
Penurunan surplus dipicu melemahnya ekspor hingga 3,1 persen, sementara impor justru naik 1,51 persen. “Namun, surplus per Maret 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD1,28 miliar,” ucap Tim Phintraco.
Di sisi lain, inflasi tahunan pada April 2026 tercatat sebesar 2,4 persen. Ini menjadi yang terendah sejak Agustus 2025, didorong oleh penurunan harga pangan dan perumahan.
Pelaku pasar juga menanti rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Tim Phintraco memperkirakan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi 0,7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Dari sisi eksternal, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, sehingga memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan kepada pasar saham global.
Sementara itu, pasar domestik juga dibayangi aksi jual investor asing yang tercatat mencapai Rp791,28 miliar. Saham BMRI, GOTO, BBCA, BUMI, dan BMRS paling banyak dilepas, sehingga memicu tekanan rupiah yang terus melemah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....