IHSG Diprakirakan Terkonsolidasi, Investor Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi

  • 05 Mei 2026 08:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan berkonsolidasi di kisaran level 6.900-7.100.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan terkonsolidasi pada Selasa 5 Mei 2026. Pada sesi perdagangan sehari sebelumnya, IHSG ditutup naik 0,22 persen ke level 6.971.

Tim Analis Phintraco Sekuritas menyatakan pelaku pasar masih cenderung bersikap wait and see melihat perkembangan global dan domestik. “Sehingga IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.900-7.100,” katanya.

Di dalam negeri, indeks manufaktur (PMI manufacturing) Indonesia memasuki area kontraksi. Pada April 2026, indeks manufaktur turun ke level 49,1 dibandingkan 50,1 pada bulan sebelumnya.

“Ini merupakan level terendah sejak Juni 2025,” ujar Tim Phintraco. Menurut analisis tim, penurunan ini disinyalir sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan.

Sementara itu surplus neraca perdagangan secara tahunan pada Maret 2026 tercatat senilai USD3,32 miliar. Ini berarti turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD4,33 miliar.

Turunnya surplus diakibatkan merosotnya nilai ekspor sebesar 3,1 persen, sementara impor naik 1,51 persen. “Namun, surplus per Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD1,28 miliar,” ucap Tim Phintraco.

Meski begitu, besaran surplus tersebut berada di bawah estimasi yang sebesar USD4,2 miliar. Di sisi lain, inflasi April 2026 secara tahunan mencapai level 2,4 persen, terendah sejak Agustus 2025.

Penyebabnya adalah turunnya harga pangan dan perumahan. Menurut Tim Phintraco, investor menantikan data pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Tim Phintraco memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I mengalami kontraksi 0,7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari faktor eksternal, investor mencermati pertikaian di Timur Tengah yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan tersebut membuat harga minyak kembali melambung, sementara pasar saham AS kembali melemah. Sementara itu, di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga masih terjadi aliran keluar modal asing sebesar Rp791,28 miliar.

Saham-saham yang paling banyak dijual adalah BMRI, GOTO, BBCA, BUMI, BMRS. Aliran keluar modal asing juga menyebabkan nilai tukar rupiah semakin melemah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....