IHSG Dibuka Melemah ke Level 7.001, Sentimen Global Masih Tekan Pasar

  • 06 Apr 2026 10:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka melemah ke level 7.001,56 pada perdagangan Senin, 6 April 2026, dipengaruhi sentimen global negatif.
  • Tekanan pasar dipicu konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak, membuat investor cenderung defensif.
  • Pengamat sarankan strategi selektif dan hati-hati, dengan peluang pada saham berfundamental kuat di tengah koreksi pasar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 6 April 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada pada level 7.001,56.

Pada awal sesi, pergerakan indeks cenderung tertekan seiring sentimen global yang masih negatif. Pelaku pasar terlihat berhati-hati memasuki awal pekan perdagangan.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, IHSG ditutup melemah secara signifikan. Yaitu turun 157,66 poin atau 2,19 persen ke level 7.026.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan tekanan global masih mendominasi pasar. Menurut dia, eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak dunia terus melonjak.

“Pelaku pasar cenderung mengambil langkah defensif dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di emerging markets seperti Indonesia," ujarnya. Menurut Hendra, hal inilah yang menjelaskan mengapa IHSG terkoreksi cukup dalam hingga turun 2,19 persen ke level 7.026.

Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Kebijakan ini dinilai meningkatkan kewaspadaan investor terhadap risiko likuiditas dan volatilitas.

Menurut Hendra, saham dengan kepemilikan terkonsentrasi lebih rentan mengalami tekanan saat terjadi aksi jual. “Saham-saham tersebut cenderung lebih mudah digerakkan oleh pihak tertentu," ucapnya.

Terlebih jika saham tersebut memiliki bobot besar terhadap indeks, maka dampaknya terhadap IHSG akan semakin terasa. “Ini yang terlihat pada saham-saham seperti DSSA, BREN, BRPT, hingga AMMN yang mengalami tekanan cukup tajam,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih cenderung berada dalam fase konsolidasi melemah. Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 6.912, terutama jika sentimen global belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Menurut Hendra, menjelang periode libur panjang, likuiditas pasar diperkirakan menurun. Sehingga, investor pun cenderung memilih wait and see dalam jangka pendek.

Meski begitu, Hendra menilai peluang tetap terbuka di tengah tekanan pasar, tetapi bersifat selektif pada saham berfundamental kuat. “Saham berbasis komoditas perkebunan berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga CPO seiring mahalnya harga minyak dunia,” ujarnya.

Di sektor perbankan daerah, BJBR dinilai menarik sebagai speculative buy, didukung stabilitas kinerja dan potensi pertumbuhan kredit daerah. Sedangkan di sektor media, saham SCMA menjadi play pemulihan konsumsi dan belanja iklan dengan target 300 persen.

Meski begitu, Hendra mengingatkan pergerakan saham tetap dipengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. “Sehingga strategi yang paling relevan saat ini adalah tetap berhati-hati,” ujarnya.

Caranya dengan fokus pada saham dengan likuiditas baik dan fundamental yang jelas. “Manfaatkan momentum koreksi sebagai peluang trading jangka pendek, bukan untuk agresif melakukan akumulasi besar,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....