IHSG Berpeluang Naik, Tapi Investor Dingatkan Hati-Hati

  • 09 Feb 2026 08:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta -  Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menguat hari ini. Namun, para investor diingatkan untuk tetap hati-hati.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun tajam hingga 2,08 persen. Namun, penurunan disertai net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp775 miliar.

Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BMRI, BUMI, TLKM, ANTM dan ASII.  "Hari ini  IHSG berpotensi untuk menguat, tapi penguatannya terbatas," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Senin, 9 Februari 2026.

Baca Juga: BI: Cadangan Devisa Januari 2026 Menurun

Fanny mengingatkan para investor untuk tetap hati-hati sepanjang IHSG belum menembus di atas level 8.050. "Karena kalau belum break 8.050,  masih rentan koreksi lagi," ucapnya.

Baca Juga: Tahun Ini, QRIS Bisa Digunakan di Korea Selatan

Fanny memperkirakan peregerakan IHSG hari hari ini di level support antara 7.780-7.850. Sedangkan level resistansi bergerak di rentang 8.000-8.050.

Sementara bursa saham global ditutup beragam pada akhir pekan kemarin, dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham teknologi. Indeks saham di Wall Street, AS melesat setelah saham-saham teknologi tertekan dalam beberapa hari terakhir. 

"Pemulihan tersebut ditopang rebound harga bitcoin yang sebelumnya melemah lebih dari 50 persen dari level tertingginya," ucap Fanny. Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 2,47 persen, S&P 500 naik 1,97 persen, dan Nasdaq Composite menguat 2,18 persen. 

Meski demikian, tambah Fanny, tekanan masih membayangi sebagian saham perangkat lunak. ServiceNow, menjadi pusat aksi jual sektor teknologi akibat kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI). 

Sementara itu, bursa saham Asia kompak melemah di akhir pekan kemarin. "Saham-saham di Korea Selatan yang merupakan barometer investasi kecerdasan buatan, turun hingga 5,1 persen sebelum kemudian 'rebound',"  ujar Fanny.

Fanny juga mencermati pengumuman pemutusan kerja (layoff) di AS yang  melonjak pada bulan Januari. Hasil survei Challenger, Gray & Christmas menyebutkan, layoff di AS mencapai level tertinggi dalam 17 tahun untuk bulan tersebut.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....