Dua Bulan Beroperasi, 79 Lokomotif Daop 1 Habiskan 6,5 Juta Liter B50
- 25 Sep 2026 02:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia mencatat 79 lokomotif Daop 1 Jakarta beroperasi tanpa gangguan mesin setelah menghabiskan 6,5 juta liter B50.
- Operasional komersial sarana transportasi rel selama 60 hari berhasil memangkas hingga 10.000 ton emisi karbon secara signifikan.
- Pertamina Patra Niaga memastikan keandalan pasokan FAME melalui skema pencampuran langsung pipa terminal ke tangki timbun.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 79 lokomotif Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta beroperasi tanpa kendala mesin. Konsumsi bahan bakar ramah lingkungan tersebut telah menembus 6,5 juta liter sejak peluncuran resmi Juli 2026.
Armada penarik tersebut beroperasi penuh selama dua bulan bersama 49 unit kereta pembangkit kelistrikan. Evaluasi berkala memastikan pemakaian biosolar B50 tetap menjaga performa mesin diesel pada rute jarak jauh.
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo memaparkan hasil evaluasi operasional sarana secara berkala. Uji coba awal bulan Mei sebelumnya melibatkan lokomotif penarik kereta api Sembrani relasi Gambir menuju Surabaya.
"Udah semua lokomotif. (Sebanyak-red) 79 lokomotif sama 49 kereta pembangkit. Tapi untuk keseluruhan 79 lokomotif itu di bulan Juli," ujar Franoto Wibowo saat menjelaskan pendataan sarana di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Pengujian unit kereta pembangkit kelistrikan juga dipasang secara bertahap pada rangkaian perjalanan kereta api Bogowonto. Teknisi sarana melakukan pemeriksaan berkala secara lebih intens terhadap kondisi filter bahan bakar tanpa kendala.
Vice President (VP) Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba turut memberikan keterangan teknis. Implementasi bahan bakar nabati selama 60 hari berhasil mereduksi 9.000 hingga 10.000 ton emisi karbon.
"Sekarang pun itu sudah mempersiapkan lebih dari B50, gitu. Jadi enggak yang distop gitu, tapi terus dilakukan untuk penambahan-penambahan. Setelah B50 ya pasti persiapan untuk lebih dari B50. Dan itu dilakukan dari sekarang untuk kajiannya sampai nanti benar-benar siap," kata Anne Purba di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Kesiapan armada perkeretaapian dicapai melalui proses adaptasi bertahap yang dirintis mulai dari formula campuran rendah. Kajian mendalam dilakukan bersama tim teknisi agar seluruh sistem sirkulasi bahan bakar tetap bekerja optimal.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan mekanisme pasokan bahan bakar nabati. Pertamina membeli produk olahan turunan sawit langsung dari badan usaha bahan bakar nabati berizin.
"Kalau kita kan kita enggak beli CPO ya. Kita kan belinya FAME-nya, gitu. Jadi FAME itu kan adalah salah satu hasil olahan CPO, gitu," ujar Roberth MV Dumatubun saat menerangkan pengadaan bahan baku di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Roberth menerangkan tahapan teknis pencampuran biosolar tanpa melalui pengolahan ulang pada terminal bahan bakar. Minyak solar dan cairan nabati ditakar dengan rasio seimbang sebelum dialirkan menuju tangki timbun utama.
"Kita pakainya eh pipeline blending. In-line. Jadi tangki tangki FAME, tangki solar, dihitung prosentasenya, masuk ke dalam pipa, in-line, masuk ke dalam tangki," ucap Roberth.
Bahan bakar yang tercampur sempurna didistribusikan menggunakan armada truk tangki menuju ke fasilitas depo. Dipo Lokomotif Cipinang dan Dipo Kereta Jakarta Kota menjadi titik utama penerimaan pasokan bahan bakar.
Karakteristik teknis biosolar B50 mempertahankan angka setana mesin diesel tanpa mengubah spesifikasi daya kerja lokomotif. Keunggulan campuran minyak sawit menghasilkan pembakaran yang lebih bersih serta ramah bagi lingkungan hidup sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....