Kebijakan B50 Jaga Keseimbangan Pasokan Pangan dan Energi
- 24 Sep 2026 02:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah menerapkan bauran bahan bakar nabati B50 secara meluas untuk menyeimbangkan pasokan sektor pangan dan energi.
- Pertamina Patra Niaga bersama kementerian terkait mengawal proporsi alokasi minyak sawit demi mencegah lonjakan harga pangan.
- PT Kereta Api Indonesia mengoptimalkan bahan bakar ramah lingkungan guna menekan emisi karbon operasional transportasi massal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah menerapkan bauran bahan bakar nabati B50 secara meluas mulai hari Rabu, 1 Juli 2026. Kebijakan strategis ini menjaga keseimbangan pasokan komoditas antara sektor pangan dan sektor energi nasional.
Pemerintah mengalokasikan komoditas kelapa sawit secara cermat demi mencegah lonjakan harga minyak goreng masyarakat. Pengaturan proporsi bahan baku menjadi kunci utama agar kebutuhan biofuel tidak mengorbankan kestabilan pangan nasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengingatkan tantangan strategis pemenuhan pasokan kelapa sawit domestik. Sektor perkebunan memerlukan peningkatan kapasitas produksi seiring bertambahnya persentase campuran minyak nabati dalam biosolar nasional.
"Bisa saja B70, tapi minyak goreng enggak ada. Gimana? Karena konsumsi sawitnya semua kesedot untuk ke biofuel. Makanya kan diatur supaya contoh misalnya kebijakan-kebijakan yang mengatur proporsional. Proporsional bagaimana konsumsi minyak sawit itu peruntukannya untuk pangan berapa, untuk FAME berapa," ujar Roberth saat mengingatkan proporsi konsumsi minyak sawit di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Ketidakseimbangan suplai komoditas mentah berpotensi memicu perebutan bahan baku antara industri pengolahan pangan dan sektor energi. Kementerian Pertanian serta Kementerian Pangan turut mengawal produktivitas panen demi mencukupi kebutuhan konsumsi domestik secara aman.
Vice President (VP) Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba menjelaskan penerapan bauran bahan bakar. Operator transportasi massal kereta api membutuhkan pasokan bahan bakar nabati berskala masif untuk operasional harian.
"Sebenarnya program sustainability itu sudah kita jalankan jauh-jauh hari ya. Jadi, program sustainability KAI sudah ada di RJPP-nya kita mulai dari sebenarnya B10, B20, dari B20 ke B30, dari B30 ke B35, B40, sampai akhirnya kita B50. Ya. Itu tadi, semuanya tentang lingkungan, emisi karbon," ucap Anne saat menerangkan peta jalan keberlanjutan di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Keseimbangan komposisi bahan bakar lokomotif berhasil menekan tingkat emisi gas buang armada kereta secara signifikan. Kelancaran pasokan energi hijau sangat menentukan kelangsungan operasional angkutan logistik serta perjalanan ribuan kereta penumpang.
Manajer Hubungan Masyarakat (Humas) KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo merinci jadwal keberangkatan. Aktivitas operasional transportasi massal mencerminkan tingginya kebutuhan pasokan bahan bakar minyak nabati di ibu kota.
"Keberangkatan dari Daop 1. Itu untuk regulernya, Gambir itu ada 35 keberangkatan perjalanan kereta. Untuk Pasar Senen itu ada 34. Tapi sebenarnya gini, Pertamina juga menyuplai misalkan untuk kereta pembangkit itu di DAO, ya. Di DAO, juga di Pasar Senen," kata Franoto saat memaparkan jadwal operasional di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Pertamina Patra Niaga memastikan pengisian bahan bakar biosolar berlangsung aman pada stasiun maupun dipo sarana. Dinamika fluktuasi harga sawit internasional turut memengaruhi minat produsen dalam mengalokasikan hasil panen kebun domestik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....