Cara Kirim Cargo dari Bangkok ke Indonesia

  • 04 Sep 2026 02:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengiriman udara dari Bangkok ke Indonesia bisa sampai dalam 1 sampai 7 hari kerja tergantung layanan yang dipilih. Sementara kargo laut butuh 7 sampai 30 hari termasuk proses customs clearance.

Rentang yang lebar ini sering bikin bingung pembeli yang baru pertama kali belanja grosir di Bangkok.

Ringkasan Cepat

● Udara: sekitar 1-7 hari kerja tergantung layanan, laut: 7-30 hari termasuk proses clearance

● Rute utama: Laem Chabang menuju Tanjung Priok, dan Suvarnabhumi/Don Mueang menuju Soekarno-Hatta

● Form D dari eksportir Thailand adalah kunci bea masuk 0 persen, sering tidak diurus forwarder yang asal murah

● Kesalahan umum: under-declare nilai barang dan memakai jasa door to door tanpa dokumen resmi

● Kosmetik dan skincare Thailand wajib cek izin edar BPOM sebelum dijual di Indonesia

Rute dan Waktu Tempuh, Kenapa Rentangnya Lebar

Ada dua jalur utama pengiriman dari Bangkok ke Indonesia: menggunakan cargo kapal laut lewat Pelabuhan Laem Chabang menuju Tanjung Priok, dan udara dari Bandara Suvarnabhumi atau Don Mueang menuju Soekarno-Hatta. Rentang waktu yang lebar bukan tanda ketidakpastian, tapi mencerminkan jenis layanan yang berbeda.

Kurir ekspres udara bisa sampai dalam 1 sampai 2 hari, sementara kargo udara reguler biasanya 3 sampai 7 hari kerja. Ini termasuk penjemputan dan proses bea cukai.

Jalur laut lebih ekonomis untuk volume besar, dengan waktu tempuh kapal sekitar 7 sampai 10 hari. Tapi total waktu pintu ke pintu bisa mencapai 2 sampai 4 minggu setelah ditambah proses penjemputan dan customs clearance di Indonesia.

Pilih moda sesuai kebutuhan: udara untuk barang bernilai tinggi atau butuh cepat mengikuti tren, laut. Untuk stok grosir dalam jumlah besar yang tidak terlalu mendesak.

Cara Klaim Form D Biar Bea Masuk Bisa 0%

Form D adalah Surat Keterangan Asal yang diterbitkan otoritas berwenang di Thailand untuk membuktikan barang memenuhi kriteria asal ASEAN sesuai ketentuan ATIGA. Dengan dokumen ini, barang asal Thailand berpeluang mendapat tarif bea masuk preferensi, bahkan bisa turun sampai 0 persen untuk banyak kategori produk.

Masalahnya, banyak importir membayar bea masuk penuh karena forwarder yang mereka pakai tidak mengurus Form D sejak dari sisi eksportir di Thailand. Dokumen ini harus disiapkan sebelum barang dikirim, bukan diusahakan menyusul setelah barang tiba di pelabuhan Indonesia, karena prosesnya melibatkan pihak berwenang di negara asal.

Kesalahan Umum yang Bikin Barang Bermasalah

Dua kesalahan paling sering terjadi pada pembeli baru. Pertama, under-declare atau mencantumkan nilai barang lebih rendah dari harga sebenarnya demi menekan pajak, yang justru berisiko barang ditahan dan dikenakan denda saat ketahuan Bea Cukai.

Kedua, memakai jasa "door to door" yang menjanjikan barang pasti lolos tanpa mau menjelaskan dokumen apa saja yang diurus. Ini sebuah pola yang belakangan makin diawasi ketat menyusul kasus dugaan suap yang melibatkan sejumlah perusahaan forwarder dan oknum Bea Cukai.

Untuk kosmetik dan skincare asal Thailand yang sedang naik daun. Pastikan juga produk tersebut sudah atau bisa diurus izin edarnya di BPOM sebelum dijual ke konsumen akhir di Indonesia.

Belanja di Bangkok, Barang Sampai Tanpa Drama

Belanja grosir di Bangkok memang menggiurkan, tapi prosesnya baru selesai kalau barang benar-benar sampai di gudang Anda dengan dokumen lengkap dan bea masuk yang wajar. Kalau Anda butuh jasa cargo bangkok ke indonesia yang mengurus Form D dan dokumen resmi sejak dari Thailand, prosesnya jadi jauh lebih tenang dibanding coba-coba sendiri lewat jasa yang cuma menjanjikan harga murah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....