Angkutan Retail KAI Naik 19,59 Persen
- 08 Agt 2026 01:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia mencatatkan volume angkutan retail sebanyak 146.617 ton sepanjang periode Januari hingga Juli 2026.
- KAI menjalin kolaborasi berbasis Business to Business dengan mitra logistik untuk mendukung efisiensi distribusi barang nasional.
- Pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional hingga delapan persen pada 2045 dengan mengoptimalkan angkutan kereta api.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia mengangkut logistik retail sebanyak 146.617 ton sepanjang Januari hingga Juli 2026. Capaian volume distribusi barang tersebut mengalami kenaikan sebesar 19,59 persen dalam kurun waktu dua tahun.
Perusahaan BUMN ini juga merilis data resmi perkembangan pengangkutan muatan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pertumbuhan angkutan tersebut setara dengan penambahan volume barang sebanyak 24 ribu ton pada jaringan rel.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba memberikan penjelasan resmi mengenai peran penting angkutan retail. Realisasi angkutan periode ini meningkat dari tahun 2025 yang mencatatkan angka sebesar 141.541 ton barang.
“Bagi sebuah usaha, pengiriman barang adalah bagian dari keberlangsungan bisnis. Ada produk yang harus sampai kepada pembeli, bahan usaha yang harus tersedia, serta perputaran ekonomi yang bergantung pada distribusi. Karena itu, bagi KAI, angkutan retail merupakan bagian penting dari ekosistem logistik yang melayani kebutuhan ekonomi masyarakat,” ujar Anne.
Anne menjelaskan bahwa pengiriman barang antarkota menggunakan sistem Business to Business dengan menggandeng mitra logistik. Layanan ini mendukung aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendistribusikan berbagai produk ke masyarakat.
“Literasi mengenai logistik ini penting. Barang yang diterima masyarakat di rumah atau produk yang sampai ke sebuah toko melewati rantai perjalanan yang panjang. Semakin baik setiap bagian dari rantai tersebut bekerja, semakin besar peluang distribusi menjadi lebih efisien dan usaha dapat berjalan lebih sehat,” kata Anne.
Ia menegaskan bahwa efisiensi logistik nasional membutuhkan kerja sama yang terintegrasi antara berbagai moda transportasi. Pemerintah sendiri menargetkan penurunan biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 12,5 persen pada tahun 2029.
“Tidak semua barang harus dibawa dengan kereta api dan tidak semua kebutuhan dapat dijawab oleh satu moda. Yang dibutuhkan Indonesia adalah sistem yang mampu menempatkan setiap moda pada fungsi yang paling efisien. Kereta api memiliki kapasitas untuk memperkuat perjalanan utama, sementara moda lain melanjutkan distribusi sampai ke titik pelanggan,” ujar Anne.
Anne menambahkan Bank Dunia menilai investasi logistik rel mampu menekan biaya transportasi serta emisi. Pemerintah juga memproyeksikan penurunan biaya logistik nasional hingga mencapai angka delapan persen pada 2045.
“Daya saing sebuah produk juga ditentukan oleh bagaimana produk itu sampai ke pasar. Karena itu, penguatan logistik berbasis rel perlu dikembangkan secara rasional berdasarkan volume, jarak, kebutuhan pelanggan, serta integrasinya dengan moda lain. Tujuannya jelas yaitu barang dapat mengalir dengan lebih efisien dan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat,” kata Anne.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan komitmen KAI dalam memperkuat kerja sama logistik. KAI berencana memperluas integrasi distribusi dengan kawasan industri guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
“Ketika sebuah produk dari satu kota dapat mencapai pasar di kota lain dengan rantai distribusi yang semakin baik, di sana ada kesempatan usaha yang ikut terbuka. Pertumbuhan angkutan retail KAI kami harapkan semakin memperluas kesempatan tersebut dan memberi kontribusi bagi sistem logistik Indonesia yang semakin kompetitif,” kata Wisnu Pramudya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....