Angkutan Retail KAI Semester I 2026 Capai 123.810 Ton
- 07 Jul 2026 00:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia mengangkut 123.810 ton barang retail sepanjang paruh pertama 2026.
- Rata-rata volume distribusi barang retail bulanan tumbuh positif dibandingkan capaian periode dua tahun sebelumnya.
- Sektor perkeretaapian terus didorong untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto.
RRI.CO.ID, Jakarta - Volume angkutan retail PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencapai 123.810 ton sepanjang Semester I 2026. Pencapaian tersebut tumbuh 5,06 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat 117.851 ton.
Kinerja logistik tersebut juga meningkat 21,84 persen dari realisasi paruh pertama 2024 sebanyak 101.617 ton. Adapun rata-rata distribusi barang retail mencapai 20.635 ton per bulan sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengemukakan pentingnya angkutan retail dalam ekosistem logistik nasional. Rata-rata angkutan bulanan pada dua tahun sebelumnya berkisar antara 16.936 ton hingga 19.642 ton.
“Angkutan retail KAI tumbuh karena pasar membutuhkan distribusi yang lebih efisien, terencana, dan mampu menjangkau lintas kota. Ini menjadi sinyal bahwa kereta api dapat mengambil peran lebih besar dalam sistem logistik nasional, termasuk untuk mendukung pelaku usaha dan UMKM,” ujar Anne.
Ia menerangkan bahwa sistem layanan pengiriman barang tersebut dijalankan menggunakan model bisnis kemitraan strategis. Dalam skema distribusi logistik tersebut armada kereta api berperan sebagai tulang punggung pengiriman antarkota.
“Kereta api memiliki keunggulan pada kapasitas, keteraturan jadwal, dan efisiensi untuk perjalanan antarkota. Ketika peran ini dipadukan dengan jaringan first-mile dan last-mile dari mitra, pelaku usaha bisa mendapatkan rantai distribusi yang lebih kompetitif,” kata Anne.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat biaya logistik nasional mencapai 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu Bank Dunia menyebut rata-rata biaya logistik global berada di kisaran 13 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto Indonesia tahun lalu menyentuh Rp23.821,1 triliun. Simulasi makro menunjukkan potensi penghematan logistik nasional secara teoritis berkisar Rp1.021 triliun per tahun.
Anne menambahkan bahwa pertumbuhan volume angkutan retail tersebut dapat memperkuat momentum kebijakan logistik nasional. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mendukung penyediaan jaringan rel kereta api terintegrasi.
“Penguatan angkutan retail berbasis kereta api perlu dilihat sebagai bagian dari agenda besar efisiensi logistik nasional. Ketika barang retail dapat dikonsolidasikan lebih baik, dihubungkan ke jaringan rel, lalu diteruskan melalui distribusi lanjutan oleh mitra, biaya pengiriman berpotensi semakin kompetitif. Dampaknya akan kembali kepada pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat melalui rantai pasok yang lebih sehat,” ujar Anne.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan pentingnya kolaborasi strategis antarmedium logistik. KAI merilis data pencapaian angkutan barang tersebut secara resmi di Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026.
“Semakin besar porsi barang yang beralih ke kereta api untuk perjalanan utama antarkota, semakin besar juga peluang Indonesia membangun sistem distribusi yang lebih efisien, kompetitif, dan memberi manfaat langsung bagi ekonomi masyarakat,” kata Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....