Kebutuhan Cold Storage Meningkat, Peluang Bisnis Terbuka

  • 27 Jun 2026 01:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Di Indonesia, kebutuhan fasilitas cold storage mengalami peningkatan yang sangat pesat.
  • Berdasarkan laporan Research and Markets 2024, pasar cold storage Indonesia diperkirakan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 11,5 persen hingga tahun 2030.
  • Menurut data dari Coldstorage, kebutuhan cold storage secara nasional diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta meter kubik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Di Indonesia, kebutuhan fasilitas cold storage mengalami peningkatan yang sangat pesat. Ditopang oleh semakin bertumbuhnya industri pangan, logistik rantai pendingin, dan e-commerce.

Bahkan, di tahun 2025, Indonesia diprediksi menjadi salah satu pasar cold storage paling prospektif di Asia Tenggara. Mengutip dari laman umkm.or.id, Jumat 26 Juni 2026, berdasarkan laporan Research and Markets 2024, pasar cold storage Indonesia diperkirakan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 11,5 persen hingga tahun 2030.

Faktor pendorong utamanya antara lain peningkatan permintaan makanan beku dan produk segar, pertumbuhan industri farmasi dan vaksin, ekspansi ritel modern dan e-commerce, dan dukungan pemerintah dalam program ketahanan pangan dan logistik nasional. Menurut data dari Coldstorage, kebutuhan cold storage secara nasional diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta meter kubik.

Sayangnya, pada tahun 2024 total kapasitas cold storage di Indonesia baru sekitar 3 juta meter kubik. Dengan kata lain, masih ada gap pasar sebesar 40 persen yang belum terpenuhi.

Cold storage adalah fasilitas penyimpanan yang dilengkapi mesin pendingin khusus untuk menyimpan berbagai produk pada suhu rendah dan stabil. Fasilitas ini berfungsi menjaga kesegaran, memperpanjang masa simpan, dan mencegah pembusukan.

Beberapa produk yang harus disimpan tersebut antara lain adalah daging, ikan, hasil laut, sayuran dan buah segar. Cold storage bisa menekan kerusakan buah, sayur, dan bahan makanan segar dari 35 persen menjadi 10-15 persen.

Produk berikutnya adalah produk susu dan minuman, serta obat-obatan, vaksin, dan bahan kimia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....