KAI Angkut 26,49 Juta Ton Barang Sepanjang Januari-Mei 2026

  • 16 Jun 2026 01:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Kereta Api Indonesia (KAI) berhasil mengangkut total 26.486.417 ton barang selama periode lima bulan pertama tahun 2026 dengan batu bara sebagai komoditas terbesar.
  • Penurunan biaya logistik nasional sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional berpotensi membuka ruang efisiensi anggaran hingga ratusan triliun rupiah per tahun.
  • KAI terus mengoptimalkan keandalan sarana dan prasarana berbasis rel guna menekan biaya distribusi logistik serta menjaga daya beli masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengangkut sebanyak 26.486.417 ton barang selama periode Januari-Mei 2026. Pengangkutan batu bara menjadi komoditas terbesar yang mendominasi dengan total volume mencapai 21.563.901 ton.

KAI juga mendistribusikan petikemas sebanyak 2.428.471 ton dan bahan bakar minyak sejumlah 1.096.998 ton. Sementara itu, volume angkutan untuk semen dan klinker berhasil mencapai angka sebesar 977.983 ton.

Sektor perkebunan menyumbang volume pengiriman sebesar 268.728 ton pada periode lima bulan pertama ini. KAI kemudian mengangkut produk retail sebanyak 48.684 ton ditambah komoditas lainnya sebesar 101.652 ton.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba memberikan keterangan terkait peran penting kereta barang. Data kinerja angkutan barang tersebut resmi dilaporkan kepada publik pada hari Senin, 15 Juni 2026.

“Kereta api barang membantu membuat biaya distribusi lebih efisien karena mampu melayani volume besar dalam satu perjalanan. Bagi dunia usaha, biaya distribusi yang lebih terkendali dapat membantu menjaga harga barang. Bagi masyarakat, rantai pasok yang lancar dapat mendukung harga yang lebih stabil,” ujar Anne.

Komponen biaya logistik meliputi pengiriman, penyimpanan, bongkar muat, hingga seluruh proses distribusi ke konsumen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun.

Setiap penurunan satu persen biaya logistik terhadap PDB setara dengan ruang efisiensi Rp238,2 triliun per tahun. Simulasi perhitungan tersebut diperoleh dari selisih persentase biaya logistik yang dikalikan nilai PDB nasional.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, biaya logistik awal tercatat sebesar 14,29 persen. Dokumen tersebut menargetkan penurunan biaya logistik menjadi 13,52 persen hingga menuju angka 12,50 persen.

Penurunan target awal biaya logistik tersebut dapat menghemat anggaran sekitar Rp183,4 triliun per tahun. Sementara itu, pencapaian target batas bawah berpotensi membuka ruang efisiensi ekonomi sebesar Rp426,4 triliun.

Anne menjelaskan dampak positif dari penurunan biaya distribusi barang bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pemerintah India sendiri mencatat biaya logistik negaranya hanya sebesar 7,97 persen dari total PDB.

“Angka ini menunjukkan bahwa logistik bukan urusan industri saja. Ketika biaya distribusi turun, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pelaku usaha bisa lebih efisien, harga barang lebih terjaga, dan daya beli masyarakat dapat ikut terdorong,” kata Anne.

Kajian Bank Dunia memaparkan biaya logistik kawasan Amerika Latin dan Karibia mencapai 16 sampai 26 persen. Sementara itu, kelompok negara maju mencatatkan biaya logistik jauh lebih rendah yaitu sekitar sembilan persen.

Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan pentingnya investasi jangka panjang transportasi rel. KAI terus berkomitmen mengoptimalkan keandalan sarana serta prasarana demi kelancaran rantai distribusi logistik nasional.

“Investasi pada logistik berbasis rel adalah investasi untuk daya saing Indonesia. Semakin besar barang yang dapat dilayani melalui kereta api secara efisien, semakin besar peluang Indonesia menekan biaya logistik, memperkuat industri, dan menjaga daya beli masyarakat,” kata Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....