DPR Dorong Hilirisasi Tembaga untuk Kurangi Ketergantungan Impor Amunisi
- 22 Mei 2026 10:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- DPR RI mendorong percepatan hilirisasi tembaga untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional.
- Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai hilirisasi penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kedaulatan nasional.
- Holding pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik.
RRI.CO.ID, Jakarta - DPR RI mendukung percepatan hilirisasi tembaga guna memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku amunisi. Dukungan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Dave, meski Indonesia memiliki sekitar 3 persen cadangan tembaga dunia, sejumlah kebutuhan strategis industri pertahanan. Termasuk, bahan baku selongsong amunisi, masih dipenuhi dari luar negeri.
"Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku. Namun, juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional," ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam cadangan tembaga dan peringkat ke-11 dalam produksi tambang tembaga. Namun, industri hilir tembaga nasional masih berada di posisi ke-18 dunia.
Dave menyebut, pengolahan tembaga secara terintegrasi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Mulai dari amunisi hingga teknologi pertahanan strategis lainnya.
Salah satu produk hilir yang kini menjadi perhatian adalah brass cup. Yakni, bahan baku utama selongsong amunisi yang selama ini masih diimpor dari luar negeri.
Data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan menunjukkan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11 persen per tahun sepanjang 2021–2025. Secara kumulatif, nilainya mencapai sekitar USD1,90 miliar atau meningkat 15,27 persen.
Di sektor industri, langkah konkret mulai dilakukan oleh MIND ID melalui PT Freeport Indonesia yang bekerja sama dengan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik. Fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Selain itu, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas produksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun. Serta, pabrik pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia.
Dave menegaskan bahwa Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN dan sektor swasta. Sehingga, hilirisasi tembaga dapat memberikan nilai tambah bagi industri pertahanan nasional dan memperkuat kemandirian strategis Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....