Dari Bauksit ke Baterai EV, MIND ID Bangun Rantai Hilirisasi

  • 15 Apr 2026 18:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
  • Melalui sinergi dan kolaborasi antar Anggota Grup MIND ID, berbagai proyek hilirisasi dikembangkan untuk memperkuat kapasitas nasional dalam pengolahan, pemurnian, dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
  • Langkah ini diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan kinerja ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi energi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Khususnya, melalui pengembangan proyek-proyek strategis hilirisasi di seluruh Anggota Grup.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menyampaikan, pihaknya konsisten meningkatkan peran sebagai pengelola sumber daya alam mineral dan batu bara. Sekaligus, menjalankan agenda hilirisasi yang selaras dengan mandat pemerintah.

Melalui sinergi dan kolaborasi antar Anggota Grup MIND ID, berbagai proyek hilirisasi dikembangkan untuk memperkuat kapasitas nasional dalam pengolahan, pemurnian, dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam. Langkah ini diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan kinerja ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi energi.

"MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional. Sekaligus, mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia," kata Maroef pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, seperti dikutip RRI, Rabu 15 April 2026.

Salah satu fokus utama Grup MIND ID saat ini adalah pengembangan rantai terintegrasi bauksit–alumina–aluminium. Pihaknya membangun integrasi proses dari hulu ke hilir, di mana ANTAM mengelola tambang bauksit, kemudian bauksit diolah menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Selanjutnya, INALUM mengembangkan smelter aluminium yang didukung pasokan energi dari Bukit Asam melalui PLTU Mempawah. Integrasi ini memperkuat basis industri nasional karena seluruh rantai pengolahan berjalan di dalam negeri, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada impor aluminium.

Pada komoditas emas, ANTAM juga membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik. Kolaborasi yang melibatkan Freeport Indonesia sebagai pemasok bahan baku emas diharapkan memperkuat daya saing Indonesia dalam memenuhi kebutuhan emas investasi masyarakat.

Sementara, untuk memperkuat ketahanan energi nasional, Grup MIND ID mengambil peran melalui pengembangan proyek Coal to DME sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Bukit Asam selaku operator proyek telah mengalokasikan cadangan batu bara kalori rendah sebagai bahan baku DME, termasuk menyiapkan kawasan industri pendukung.

Di sisi mineral kritis, MIND ID melalui Vale Indonesia mengembangkan proyek-proyek strategis, antara lain pengolahan nikel berkadar rendah di Sorowako serta pembangunan smelter HPAL di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako. Proyek ini ditujukan untuk menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dan feronikel (FeNi) sebagai bagian dari rantai pasok industri baterai dan industri logam.

Untuk komoditas timah, hilirisasi diarahkan pada pengolahan logam timah menjadi timah bubuk melalui fasilitas seperti Batu Ausmelt dan Batu Industri. Hal ini untuk meningkatkan nilai tambah produk timah nasional melalui produk turunan yang lebih beragam.

Sedangkan, dalam pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV Battery), Grup MIND ID juga membangun rantai industri yang lebih terintegrasi. Mulai dari penambangan bijih nikel, pengolahan dan pemurnian nikel di Halmahera Timur, hingga pembangunan pabrik battery cell dan battery pack di Karawang.

Proyek ini diharapkan memperkuat kapasitas nasional untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik yang terus tumbuh. Maroef menegaskan bahwa pengembangan proyek hilirisasi ke depan juga akan diperkuat melalui program riset dan pengembangan (R&D) yang lebih agresif.

Menurutnya, penguatan R&D merupakan praktik yang lazim dijalankan negara yang mengembangkan operasi tambang terintegrasi dari hulu ke hilir. "Kami sangat ingin memiliki R&D sendiri, khususnya terkait pertambangan mineral dan batu bara, dan juga yang nonteknisnya terkait laboratorium untuk persaingan pasar. Itu akan kami laboratioum-kan, sehingga kita bisa mengantisipasi pasar di luar negeri," ujarnya. (rel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....