Komitmen BPDP dalam Riset Kelapa Sawit Diapresiasi

  • 07 Apr 2026 06:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dinilai memiliki peran strategis serta komitmen yang kuat dalam mendukung kegiatan riset di sektor kelapa sawit nasional. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Ia menyebut komitmen BPDP dalam mendukung kegiatan riset di sektor kelapa sawit terlihat secara nyata. Tungkot Sipayung mengungkapkan, hingga tahun 2025 BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian, yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.

Sejauh ini riset-riset yang didanai BPDP mencakup berbagai macam topik mulai dari pengembangan material baru berbasis sawit dan biomassa yang menghasilkan nilai tambah tinggi hingga studi di lingkungan perkebunan dan kajian sertifikasi, demi mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan dan mendukung ekonomi sirkular.

"Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat," ujarnya.

Tungkot berharap BPDP dapat terus mengoptimalkan dukungan terhadap kegiatan riset, termasuk melalui pelaksanaan evaluasi komprehensif secara berkala. Hal ini guna memperoleh masukan strategis dalam meningkatkan efektivitas peran lembaga tersebut di bidang riset.

Namun, Tungkot menyoroti salah satu hal yang perlu dievaluasi adalah keterbatasan hasil riset yang berhasil menjadi inovasi dalam praktik bisnis di industri kelapa sawit. Menurutnya, sebagian besar hasil riset kelapa sawit masih berhenti pada tataran publikasi ilmiah dan belum berlanjut ke tahap implementasi praktis di industri.

"Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun," katanya.

Penulis buku Mitos dan Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia ini mencontohkan, terdapat banyak penelitian terkait penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit. Namun, hingga saat ini belum terdapat kebijakan nasional yang solutif dalam penanggulangan penyakit tersebut di Tanah Air.

"Inilah tantangan ke depan yang harus dilakukan bagaimana mempercepat implementasi hasil riset (invensi) menjadi inovasi bisnis dan kebijakan," ucapnya.

Tungkot menekankan perlunya ada perubahan paradigma riset untuk industri sawit ke depan dari berdasarkan supply-driven menjadi ke market-driven. Ia menegaskan, para pelaku industri sangat berharap riset sawit menghasilkan inovasi yang dapat memecahkan masalah riil di lapangan.

Riset-riset yang didanai BPDP diharapkan mampu memberikan solusi serta menjadi pemecah masalah atau problem solving terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit nasional saat ini. Di antaranya, peningkatan produktivitas atau efisiensi, peningkatan aspek sustainability dan awareness terhadap lingkungan dan isu-isu global, serta mendorong penemuan/inovasi produk atau pasar baru.

"Secanggih apapun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya," kata dia.

Tungkot menambahkan, riset di sektor kelapa sawit perlu memberikan perhatian lebih terhadap isu kampanye negatif di tingkat global. Ia menyebut tantangan persepsi publik terhadap industri sawit masih belum diimbangi dengan dukungan riset yang memadai.

"Kalau persepsi masyarakat tentang sawit semakin jelek dan dibiarkan berlarut-larut maka secara perlahan akan menghancurkan masa depan sawit. Era informasi saat ini jangan anggap enteng tentang persepsi," ujarnya menandaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....