Di Tengah Target EBT, Agrovoltaic Tawarkan Solusi Integratif Lahan

  • 01 Apr 2026 10:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Di tengah target penambahan energi baru terbarukan (EBT), pendekatan ini dinilai relevan untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang
  • Energi surya menjadi salah satu kontributor terbesar dalam bauran EBT
  • Agrovoltaic menawarkan pendekatan penggunaan ganda lahan dengan menggabungkan pertanian dan panel surya

RRI.CO.ID, Jakarta - Model agrovoltaic dinilai menjadi solusi integratif dalam menjawab tantangan kebutuhan energi bersih dan perlindungan lahan pertanian. Skema ini menggabungkan pemanfaatan lahan untuk produksi pangan sekaligus pembangkitan listrik tenaga surya.

Di tengah target penambahan energi baru terbarukan (EBT), pendekatan ini dinilai relevan untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang. Apalagi, kebutuhan energi surya nasional terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal, menilai tantangan utama bukan pada keterbatasan lahan. Menurutnya, persoalan terletak pada desain integrasi antara sektor energi dan pertanian.

“Negara membutuhkan energi bersih dalam skala besar, dan pada saat yang sama tidak boleh kehilangan fondasi pangan,” ujar Syam dalam keterangannya, Rabu, 1 April 2025. Ia menegaskan ruang tidak lagi dapat dipandang secara monofungsi.

Dalam perencanaan nasional, penambahan kapasitas pembangkit listrik diproyeksikan mencapai puluhan gigawatt. Energi surya menjadi salah satu kontributor terbesar dalam bauran EBT tersebut.

Di sisi lain, kebijakan perlindungan lahan pertanian juga semakin diperketat melalui penetapan lahan sawah dilindungi. Kondisi ini mendorong perlunya model pemanfaatan lahan yang lebih efisien dan adaptif.

Agrovoltaic menawarkan pendekatan penggunaan ganda lahan dengan menggabungkan pertanian dan panel surya. Model ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi melalui indikator Land Equivalent Ratio (LER).

“Penggunaan ganda dapat menghasilkan output gabungan yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan terpisah,” kata Syam. Ia menyebut model ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi lahan.

Selain itu, agrovoltaic juga dinilai memberikan diversifikasi pendapatan bagi petani dan pelaku usaha. Ketika sektor pertanian tertekan, produksi listrik dapat menjadi penopang, begitu pula sebaliknya.

Pemanfaatan teknologi digital juga memperkuat keandalan sistem dalam model ini. Monitoring operasional secara real-time dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan meminimalkan potensi gangguan.

Namun demikian, Syam mengingatkan pentingnya perencanaan teknis yang matang dalam implementasi agrovoltaic. Desain harus tetap menjaga produktivitas pertanian agar proyek memiliki keberlanjutan sosial dan ekonomi.

“Bisnis agrovoltaic harus dibangun dengan standar yang menjaga keseimbangan antara performa energi dan agronomi,” ujarnya.

Ia menambahkan, model ini juga berpotensi memperkuat ekonomi desa melalui skema kemitraan yang inklusif. Petani dapat dilibatkan sebagai mitra sehingga manfaat ekonomi tidak hanya terpusat pada pengembang.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, agrovoltaic dinilai sebagai model masa depan dalam integrasi energi dan pertanian. Pendekatan ini diharapkan mampu mendukung target EBT sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi pelopor energi bersih dunia. Ia menargetkan transisi menuju 100 persen pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) dalam kurun waktu 10 tahun, lebih cepat dari target global 2060.

“Kita harus genjot pembangunan pembangkit dari surya, hidro, panas bumi, dan bioenergi. Indonesia harus menjadi pelopor energi bersih dunia,” ujar Presiden Prabowo saat menyampaikan pidato dalam Sidang Paripurna di Gedung Nusantara, Jumat, 15 Agustus 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kebijakan subsidi energi yang adil dan tepat sasaran. Pemerintah, kata dia, berupaya memastikan anggaran energi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Diketahui, RAPBN 2026 mengalokasikan sekitar Rp402,4 triliun untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Anggaran tersebut mencakup subsidi energi, insentif perpajakan, pengembangan EBT, hingga program listrik desa.

Langkah ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap energi fosil. Selain itu, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menjaga harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

Presiden Prabowo menilai percepatan transisi energi akan memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia. Tidak hanya menurunkan emisi karbon, langkah ini juga diyakini mampu meningkatkan daya saing industri nasional.

Ia menambahkan, penguatan sektor energi menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pemerintah pun berkomitmen memastikan pasokan energi yang andal hingga ke pelosok daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....