Menkeu Rencana Ubah Harga BBM Subsidi, Komisi XI Singgung Dampak Pangan
- 10 Mar 2026 12:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi XI DPR RI buka suara, terkait Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana menaikkan harga BBM bersubsidi. Rencana Menkeu Purbaya tersebut, merespons lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi menekan APBN Indonesia.
Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Kholid meminta, Menkeu Purbaya hati-hati dalam mengambil keputusan tersebut. Karena, keputusan menaikkan harga BBM bersubsidi akan berdampak langsung pada kenaikan harga pangan.
"Harus hati-hati dalam mengambil keputusan. Menaikkan harga BBM bersubsidi akan berdampak pada kenaikan harga-harga di berbagai sektor lainnya," kata politikus PKS ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Jika harga pangan naik, ia menyakini, berdampak besar menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, mayoritas sumber pertumbuhan berada di konsumsi masyarakat.
"Kalau daya beli tertekan maka pertumbuhan ekonomi juga terdampak. Sebaiknya Menkeu meninjau ulang postur anggaran APBN lainnya yang masih memungkinkan dilakukan efisiensi dan realokasi," ucap Kholid.
Ia menyarankan, Menkeu Purbaya melakukan adjustment terkait program-program pemerintah yang masih bisa diefisiensikan atau direalokasi. Salah satunya, meninjau ulang terkait alokasi anggaran program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
"Apakah masih memungkinkan dievaluasi? Jika masih, mungkin bisa menjadi opsi. Tentu harus dihitung secara cermat, matang, dan hati-hati," ujar Kholid.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya menilai, ekonomi Indonesia masih berada pada fase ekspansi. Ia menegaskan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan baik meski pasar keuangan bergejolak.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus kisaran Rp17.000 pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Pada saat yang sama Indeks Harga Saham Gabungan juga melemah di tengah lonjakan harga minyak dunia.
“Ekonomi sedang ekspansi. Resesi saja belum, melambat pun belum,” ujar usai meninjau Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Menurutnya, pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham lebih banyak dipengaruhi sentimen global. Ia menyebut ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi memicu gejolak pasar keuangan.
“Teman-teman tidak usah takut menghadapi gejolak ekonomi global. Kita sudah punya pengalaman menghadapi berbagai krisis dan tahu cara menjaganya,” katanya.
Purbaya mengatakan, pemerintah akan memantau perkembangan harga minyak dunia secara berkala. Hal itu dilakukan karena lonjakan harga energi dapat memengaruhi kondisi fiskal negara.
Ia menjelaskan perhitungan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menggunakan rata-rata harga minyak selama satu tahun. Karena itu lonjakan harga dalam waktu singkat belum langsung memengaruhi kebijakan fiskal pemerintah.
“Kalau sekarang USD100 belum tentu setahun rata-ratanya USD100. Bisa saja nanti turun lagi,” ucapnya.
Purbaya juga memastikan pemerintah belum memiliki rencana menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Menurutnya ruang fiskal masih cukup menahan dampak lonjakan harga minyak dunia.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM. Pemerintah juga belum memiliki rencana menaikkan harga BBM,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....