Industri Makanan dan Minuman Lakukan Mitigasi Dampak Konflik Timur Tengah

  • 08 Mar 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta: Konflik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan besar bagi berbagai sektor industri, termasuk makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. Hal ini mengingat kenaikan harga energi dan gangguan logistik, mulai dirasakan pelaku industri.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, mengatakan harga energi melonjak tajam. Harga minyak kini berada di atas 90 dolar per barel.

"Sebelumnya harga minyak sekitar 60 sampai 70 dolar per barel," kata Adhi, dalam perbincangan bersmaa Pro 3 RRI, Minggu, 8 Maret 2026. Ia menyebut, kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi industri, termasuk mamin.

Gangguan logistik, lanjutnya, juga muncul akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa mengubah jalur distribusi sehingga waktu pengiriman lebih lama.

"Kami sudah mendapat kabar adanya keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya logistik," ujar Adhi. Beberapa kapal harus memutar jalur, sehingga biaya tambahan muncul.

Menurutnya, industri makanan dan minuman sangat bergantung pada impor bahan baku. Komoditas utama yang diimpor antara lain gula, gandum, jagung, dan kedelai.

Selain bahan pangan, pasokan plastik juga mulai terdampak konflik. Pasokan plastik dari produsen di Timur Tengah, dilaporkan berkurang sekitar 20 hingga 30 persen.

"Kenaikan harga plastik ini bisa berdampak juga pada industri makanan dan minuman," kata Adhi. Ia menegaskan hampir semua produk makanan menggunakan plastik sebagai kemasannya.

Adhi menilai, kondisi tersebut harus diantisipasi bersama oleh pelaku usaha. Ia meminta pelaku industri tidak memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara berlebihan.

"Kita harus kompak dan tidak mencari kesempatan dalam kesempitan," ujarnya. Menurutnya, stabilitas harga penting agar ekonomi tidak terganggu.

Industri juga mulai mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain. Namun Adhi menilai dampak konflik tetap terasa karena sistem logistik dunia saling terhubung.

"Begitu satu wilayah terganggu, jadwal kapal di seluruh dunia ikut terdampak," katanya. Kondisi serupa pernah terjadi saat pandemi Covid-19 lalu yang terjadi secara global.

Dalam jangka pendek, pelaku industri berupaya menahan kenaikan harga produk. Langkah itu dilakukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama menjelang Lebaran.

"Kami berharap harga tidak dinaikkan dulu karena kondisi ini masih bersifat sementara," kata Adhi. Namun ia mengingatkan industri kecil lebih rentan terhadap lonjakan biaya.

Adhi juga menyoroti tingginya ketergantungan impor bahan baku. Ia menyebut, beberapa komoditas utama bahkan hampir seluruhnya berasal dari luar negeri.

"Industri gula dan gandum hampir 100 persen impor," ujarnya. Sementara kedelai sekitar 70 persen dan susu sekitar 80 persen masih diimpor.

Karena itu ia mendorong penguatan sektor hulu dalam negeri. Pemerintah diharapkan memberikan insentif agar produksi bahan baku lokal meningkat.

"Pemerintah perlu memitigasi biaya dan regulasi yang menghambat dunia usaha," kata Adhi. Menurutnya langkah cepat diperlukan agar industri tetap bertahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....