DEN Soroti Dampak Konflik Iran terhadap Energi RI

  • 04 Mar 2026 20:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta: Kondisi terbaru di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, menjadi perhatian serius semua negara, termasuk Indonesia. Pasalnya eskalasi konflik telah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi nasional.

Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, menyatakan situasi ini menjadi konsen global. “Semua negara mulai menghitung dampak konflik Iran dan Amerika yang meluas,” ujarnya, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 4 Maret 2026.

Menurutnya, negara seperti Qatar, Bahrain, Oman, Arab Saudi, dan Irak turut terdampak kemelut. Negara-negara itu merupakan pemasok utama minyak bumi dan LNG ke kawasan Asia Pasifik.

Saleh menjelaskan produksi minyak mentah dan produk turunan mengalami penurunan signifikan. “Jika Selat Hormuz ditutup, pengiriman otomatis terganggu,” katanya.

Ia menambahkan negara-negara maju memiliki cadangan energi hingga 90 hari. Stok tersebut disiapkan untuk mengantisipasi gangguan pasokan jangka pendek.

Indonesia sendiri, lanjutnya, memiliki cadangan operasional yang diatur dalam peraturan BPH Migas. “Setiap badan usaha yang memiliki izin usaha niaga itu wajib menyimpan dan memiliki stok itu selama 23 hari dari rata-rata penjualan,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan Cadangan Penyangga Energi (CPE) nasional. Kebijakan ini diharapkan memperkuat ketahanan energi saat krisis global terjadi.

Menurut Saleh, stok terbesar nasional berada pada Pertamina sebagai pemasok utama. Secara umum, stok BBM nasional berada pada kisaran 21 hingga 23 hari.

“Beruntungnya untuk BBM yang kita konsumsi sehari-hari seperti Pertalite, itu mayoritas diimpor dari Singapura dan Malaysia. Jadi mudah-mudahan situasi di Timur Tengah tidak terlalu mengganggu pasokan BBM,” kata Saleh.

Meski demikian, Saleh menyebut impor minyak mentah dari Arab Saudi berkisar 19 persen. Minyak mentah ini yang digunakan untuk memproduksi BBM di kilang-kilang.

Pertamina, menurut Saleh, telah menyiapkan langkah diversifikasi pasokan dari Afrika dan Amerika. “Kehilangan 19 persen impor akan segera kami tutup dari sumber lain,” ujarnya.

Ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi Timur Tengah. “Karena sekarang pun masyarakat bisa membeli BBM maupun LPG dimanapun, berapapun, kapanpun, enggak ada masalah karena produksi kita masih cukup,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....