Dave: Diplomasi Energi Presiden Prabowo-Bahlil Perkuat Kedaulatan RI

  • 19 Feb 2026 19:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C. pada Februari 2026 dinilai membawa pesan strategis bagi masa depan energi nasional. Agenda tersebut turut dihadiri Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam rangka memperkuat kerja sama teknologi dan investasi.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dave Laksono menilai, diplomasi itu sebagai langkah menenun kedaulatan energi. Menurutnya, pemerintah tidak sekadar membangun relasi, tetapi memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas.

“Intinya memutus rantai impor dan mengokohkan ketahanan energi nasional. Stabilitas pasokan menjadi fokus utama yang diperjuangkan,” ujar Dave, Kamis, 19 Februari 2026.

Dalam pertemuan dengan otoritas Amerika Serikat, Indonesia mengamankan komitmen investasi US$ 3,5 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk revitalisasi sumur minyak tua melalui teknologi Enhanced Oil Recovery.

Bahlil menyatakan Indonesia tidak boleh bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia. “Dengan teknologi EOR dari mitra AS, produktivitas ladang domestik akan kembali ditingkatkan,” ujarnya di Washington.

Langkah itu diproyeksikan menambah produksi hingga 80.000 barel per hari. Tambahan produksi dinilai signifikan untuk menghemat devisa dan memperkuat neraca energi nasional.

Selain sektor hulu migas, isu hilirisasi mineral juga menjadi agenda penting. Dave menyebut pengakuan AS terhadap posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis sebagai capaian krusial.

Komitmen investasi baru senilai US$ 4 miliar disiapkan untuk pembangunan smelter berteknologi HPAL. Proyek tersebut mendukung pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik berstandar global.

“Ini membuktikan hilirisasi bukan lagi wacana. Tetapi, standar industri nasional yang diakui dunia,” ujar Dave.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga memaparkan roadmap transisi energi menuju Net Zero Emission 2060. Gas alam diposisikan sebagai energi jembatan sebelum optimalisasi energi terbarukan.

Pendanaan US$ 2,8 miliar dari lembaga keuangan AS diarahkan untuk proyek pipa gas dan terminal LNG. Targetnya, harga gas industri dapat ditekan di bawah US$ 6 per MMBTU.

Mengutip Presiden Prabowo, Dave mengatakan, kemitraan dibangun atas dasar saling menguntungkan. “Indonesia punya sumber daya, Amerika punya teknologi, dan kolaborasi ini melahirkan kekuatan ekonomi baru,” ujarnya.

Dave menilai diplomasi energi ini menandai pergeseran gaya ekonomi Indonesia yang lebih teknis dan berorientasi hasil. "Energi kini ditempatkan sebagai fondasi menuju Indonesia sebagai kekuatan industri baru di Asia Tenggara," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....