Perundingan Indonesia-GCC FTA Masuki Fase Percepatan Substansi
- 25 Jan 2026 11:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Riyadh - Pemerintah menegaskan perundingan Indonesia dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council (GCC) memasuki fase krusial percepatan substansi. Pemerintah memandang, putaran keempat sebagai penentu arah finalisasi perjanjian perdagangan bebas strategis tersebut.
Putaran keempat Indonesia-GCC Free Trade Agreement (FTA) berlangsung di Riyadh pada 18-23 Januari 2026 dengan format hibrida. Pertemuan tersebut menandai konsistensi kedua pihak menjaga kesinambungan proses perundingan.
“Memasuki putaran keempat, Indonesia dan GCC telah memiliki fondasi perundingan yang semakin solid. Kami optimistis dinamika pembahasan dapat semakin dipercepat sehingga penyelesaian substantif Indonesia-GCC FTA pada 2026 dapat tercapai,” ujar Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Djatmiko Bris Wijtaksono, dalam keterangan persnya di Riyadh, Sabtu, 24 Januari 2026.
Djatmiko menilai, kesepakatan ini berpotensi memperkuat kemitraan ekonomi jangka panjang Indonesia dan negara Teluk. Pemerintah memandang FTA sebagai instrumen strategis penguatan daya saing nasional.
Perundingan putaran keempat memfokuskan pembahasan pada isu inti perdagangan. Isu tersebut meliputi perdagangan barang, jasa, investasi, dan ketentuan asal barang.
Negosiasi juga mencakup penguatan kerja sama ekonomi Islam dan sektor halal. Pemerintah menilai, sektor tersebut memiliki nilai tambah tinggi bagi ekspor nasional.
Sementara itu, Direktur Perundingan Bilateral Kemendag sekaligus Ketua Tim Perunding Indonesia Danang Prasta Danial menilai putaran keempat sebagai momentum konsolidasi kemajuan. Ia menyebut pembahasan kini semakin teknis dan terfokus.
“Pembahasan telah bergeser dari aspek konseptual ke pendalaman teknis dan penyempurnaan teks perjanjian. Indonesia dan GCC berupaya mengatasi ruang perbedaan melalui dialog konstruktif dengan tetap menjaga keseimbangan kepentingan,” ujar Danang.
Danang menegaskan, percepatan perundingan membuka peluang perluasan akses pasar Indonesia ke kawasan Teluk. Pemerintah menargetkan peningkatan ekspor barang dan jasa secara signifikan.
Dari pihak GCC, Ketua Tim Perunding GCC Raja Munahi Al-Marzoqi menekankan pentingnya kolaborasi erat kedua pihak. Ia menilai penyelesaian FTA bergantung pada kerja sama sebagai satu tim.
“Indonesia dan GCC memiliki komitmen dan kemampuan untuk menyelesaikan perundingan ini melalui kolaborasi yang erat sebagai satu tim. Dengan pendekatan tersebut, kami optimistis perundingan dapat dirampungkan pada 2026,” ujar Raja Munahi.
GCC beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar. Perundingan Indonesia-GCC FTA resmi diluncurkan pada 31 Juli 2024.
Pemerintah menilai Indonesia-GCC FTA menjadi perjanjian strategis ketiga Indonesia di Timur Tengah. Kesepakatan ini melengkapi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Emirat Arab dan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Iran.
Indonesia-GCC FTA diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekspor hingga 17,4 persen. Sektor unggulan meliputi elektronik, tekstil, manufaktur, logam, dan produk kulit.
Perjanjian ini juga diharapkan memperluas ekspor jasa transportasi udara dan jasa bisnis. Pemerintah menargetkan penetrasi pasar Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa.
Pada Januari-November 2025, total perdagangan Indonesia-GCC tercatat USD 15,45 miliar. Nilai ekspor sendiri mencapai USD 7,59 miliar dan impor USD 7,86 miliar.
Pemerintah menilai finalisasi Indonesia-GCC FTA akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global. Kesepakatan ini diharapkan menjadi landasan ekspansi ekonomi berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....