Indonesia Usung Misi Ketahanan Nasional ke Forum PBB

  • 19 Sep 2026 07:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia membawa misi ketahanan nasional dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB
  • Menlu Sugiono mewakili Presiden Prabowo Subianto, dalam Sidang Majelis Umum PBB 2026
  • Sidang PBB ke-81 mengusung tema pemulihan kepercayaan dan pengelolaan transformasi
  • Indonesia mendorong ketahanan nasional, untuk mendukung ketahanan regional dan global

INDONESIA kembali menegaskan daya tariknya di kancah global. Kali ini, melalui Menteri Luar Negeri RI Sugiono, yang memimpin delegasi Indonesia, membawa satu misi krusial.

Mewakili Presiden Prabowo Subianto, Menlu hadir ke Sidang ke-81, Majelis Umum PBB (UNGA), di New York Amerika Serikat. Misi yang dibawa adalah ketahanan nasional berdimensi global.

Sidang tahun ini mengusung tema “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers For All”. Tema ini sangat relevan di tengah fragmentasi geopolitik, krisis iklim, dan disrupsi teknologi, yang menguji negara-negara berkembang.

Di bawah kepemimpinan Presiden Sidang UNGA, Khalilur Rahman, dunia menyoroti enam prioritas. Mulai dari perdamaian, transisi hijau, hingga tata kelola kecerdasan buatan (AI).

Bagi Indonesia, prioritas ini bukan sekadar diskursus normatif. Data Badan Pangan Dunia (FAO), dan Kementerian ESDM, mengingatkan bahwa ketahanan sejati di tahun 2026, bertumpu pada trilema kritis.

Ketiganya yakni pangan, energi, dan air, ditambah kedaulatan digital. Ketahanan nasional kita hari ini, bukan lagi perihal parit pertahanan militer, melainkan kemampuan menjaga rantai pasok pangan domestik.

Jangan lupakan juga stabilitas harga energi, serta keamanan data siber nasional. Apalagi di tengah penetrasi AI yang semakin masif.

Memperkuat ketahanan nasional berarti merajut ketahanan kawasan. Ketika perubahan iklim memangkas pertanian regional, atau ketegangan geopolitik mencederai jalur pasok maritim global, Indonesia tidak bisa sendiri.

Kebijakan de-risking rantai pasok ASEAN, memerlukan kepemimpinan kolektif. Di sinilah letak daya gedor politik luar negeri bebas aktif yang dinamis.

Indonesia hadir di PBB, bukan untuk mengambil posisi tampang atau retorika hampa. Melainkan menawarkan tangible solutions, atau kerja sama transisi energi berkeadilan (JETP).

Indonesia juga menawarkan ketahanan pangan berbasis desa mandiri, dan norma etika tata kelola digital global. Tentunya secara inklusif bagi Global South.

Ketahanan nasional yang kuat, akan melahirkan kepercayaan diri eksternal. Sebaliknya, stabilitas global adalah perisai bagi ekonomi domestik, yang menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di atas 5 persen.

Forum PBB ke-81, harus menjadi panggung pembuktian, bahwa dari Jakarta, ketahanan bukan sekadar slogan. Tetapi merupakan kontribusi nyata, utamanya bagi keselamatan bumi dan manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....