Erupsi Anak Krakatau dan Perlunya Kerja Sama Penerbangan Internasional
- 12 Sep 2026 07:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Erupsi Gunung Anak Krakatau, berdampak pada penerbangan internasional, dari dan menuju Indonesia
- Pada puncak erupsi, ratusan penerbangan harus ditunda
- Abu vulkanik menjadi ancaman serius, terhadap keselamatan mesin pesawat
- Kerja sama keselamatan udara dengan negara ASEAN dan Asia, perlu diperkuat
ERUPSI Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026, menunjukkan bahwa bencana alam dapat berdampak jauh, melampaui lokasi kejadian. Abu vulkanik yang dikeluarkan dari perut gunung, tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga sektor penerbangan internasional Indonesia.
Dampak abu vulkanik terhadap mesin pesawat, membuat sejumlah bandara internasional di Indonesia, harus ditutup sementara demi keselamatan. Pada puncak gangguan saja, setidaknya 622 penerbangan internasional terdampak.
Sejumlah rute dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta ikut terganggu. Diantaranya dari Singapura, Kuala Lumpur, Doha, hingga Sydney.
Bandara Kertajati yang berada di luar Jakarta pun ikut terdampak. Hal itu karena bandara di Jawa Barat ini, melayani penerbangan dari dan menuju Jeddah serta Amsterdam.
Kondisi tersebut, menunjukkan betapa eratnya konektivitas udara Indonesia dengan jaringan penerbangan global. Gangguan di satu bandara utama, terutama Soekarno-Hatta sebagai pintu masuk dan keluar penumpang internasional, dapat menimbulkan efek berantai.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana membuka kembali bandara. Tetapi memastikan informasi mengenai ancaman vulkanik, dapat bergerak secepat ancamannya.
Data aktivitas gunung api, arah angin, ketinggian, hingga sebaran abu harus segera dibagikan kepada semua pihak. Pertukaran informasi dengan negara tetangga menjadi sangat penting, untuk menentukan pengalihan rute dan keselamatan penerbangan.
Penguatan kerja sama menghadapi gangguan penerbangan akibat erupsi, juga penting dilakukan. Tidak hanya secara regional antarnegara ASEAN, tetapi juga diperluas hingga negara-negara di kawasan Asia.
Di saat yang sama, koordinasi dengan kedutaan negara-negara terdampak, harus segera dilakukan. Guna memastikan wisatawan asing memperoleh informasi yang cepat dan mudah dipahami, termasuk dalam bahasa internasional.
Pelajaran dari erupsi Anak Krakatau sangat jelas. Keselamatan penerbangan adalah prioritas, tetapi ketahanan konektivitas antarnegara juga harus dibangun sebelum bencana terjadi.
Dengan melakukan hal tersebut, kita dapat menjaga dua aspek penting ketika erupsi kembali terjadi. Kita tidak hanya mampu merespons, tetapi juga menjaga kepercayaan dunia, terhadap keselamatan dan konektivitas penerbangan Indonesia.
(Naskah turut disusun oleh : Kepala Pusat Pemberitaan LPP RRI, Yuliana Marta Doky)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....